LELAKI SEJATI…siapa & apa ciri-ciri nya???

December 27th, 2007 by boruff

السلام عليكم ورحمة
الله وبركا تة

 

Dengan
menyebut nama
 yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah
 yang
Maha Kuasa total atas segala sesuatu. Ia tidak pernah dimintai pertanggung
jawaban karena Dialah
 yang
Maha Adil, jadi apapun yang ditimpakan kepada mahluqnya pastilah sempurna dan
kita tidak layak kecewa. Tetap optimis dan selalu berprasangka baik kepada
 akan
membuat hidup kita nyaman. Hidup ini terlalu berharga jika harus disikapi dengan
kecewa terhadap perbuatan
. Kecewa dapat saja kita rasakan jika kita salah dalam
menyikapinya. Tetapi yakinkanlah bahwa perhitungan
 tidak
semata-mata di dunia tetapi adalah persiapan menuju cintaNya, menuju
syurgaNya.

 

Dua
pekan sudah T’Rapi tidak dapat hadir dihadapan sahabat, bapak dan ibuku yang
tersayang, namun pada pekan ini, saya ingin kembali menghadirkan T’Rapi, semoga
sahabat, bapak dan ibuku tersayang tidak bosan membacanya dan semoga hikmah
selalu dapat kita petik serta kita amalkan,
aamiiin

 

- -
-

 

Beratapkan
langit malam dengan di temani bintang dan bulan, seorang remaja lelaki, belum 19
tahun usianya, bertanya dengan manja kepada ibunya: “Ma.. ceritakan padaku
tentang lelaki sejati”

 

Penuh
kelembutan dan kasih sayang, sang Ibu tersenyum dan
memaparkan:

“Nak,
Lelaki Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih
sayangnya pada orang disekitarnya”

 

lalu
sang ibu terdiam sejenak dan
melanjutkan

“Lelaki
Sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya
mengatakan kebenaran”

 

“Lelaki
Sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap
bersahabatnya pada generasi muda
bangsa”

 

“Lelaki
Sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi
bagaimana dia dihormati didalam rumah”

 

“Lelaki
Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya
memahami persoalan”

 

“Lelaki
Sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada
dibalik itu”

 

“Lelaki
Sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja, tetapi komitmennya
terhadap wanita yang dicintainya”

 

“Lelaki
Sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya
dia menghadapi lika-liku kehidupan”

 

“Lelaki
Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya
dia menjalankan apa yang ia baca”

 

…sambil
berusaha memahami semua perkataan ibunya, kembali remaja tadi bertanya kepada
ibunya…

 

"Siapakah
yang dapat memenuhi kriteria seperti itu,
Ma?"

 

Sang
Ibu memberinya buku dan berkata…. "Pelajarilah tentang dia anakku…" ia pun
mengambil buku itu. "MUHAMMAD", judul buku yang tertulis di buku
itu

 

“Ma,
ingin aku mencontoh seluruh sifat lelaki itu, doakan aku agar hati ini selalu
cinta kepada Rasululloh yang mulia, agar aku dapat mencontoh dan menghidupkan
sunnah-sunnahnya”

 

- -
-

 

Semoga
shalawat dan salam kita tetap tercurah pada idola kita, rasululloh junjungan,
salam ‘alaika ya rasululloh, salam
‘alaika…

 

و سلام عليكم ورحمة
الله وبركا ت

Kisah untuk Kita ambil Iktibar

December 26th, 2007 by boruff

Obat dokter tidak bisa menyembuhkannya,
mengapa justru orang cacat itu yang bisa
menyembuhkan penyakitnya. ..?

Pak
Hasan, adalah jama’ah dari embarkasi Surabaya. Ia dan istrinya
berangkat ke Mekkah kebetulan pada tahap gelombang ke dua. Artinya
mereka datang dari Indonesia langsung ke Mekah terlebih dahulu, baru
kemudian ke Madinah.

Kondisi
pak Hasan ketika berangkat memang agak sakit. Batuk pilek setiap hari.
Sampai dipakai berbicara saja tenggorokannya sudah terasa sakit. Batuk
pilek yang semacam itu memang membuat badan begitu capek lunglai. Semua
persendian terasa sakit. Sehingga menjadikan tubuh menjadi malas untuk
diajak beraktivitas.

Beberapa
kali pak Hasan diobati oleh dokter kloternya. Tetapi tetap saja
sakitnya tidak bisa sembuh. Rasanya semua macam obat yang berhubungan
dengan penyakitnya sudah ia minum. Tetapi tetap saja badan lunglai,
kepala pusing bahkan batuknya tidak pernah berhenti. Badan dengan
kondisi semacam itu, mengakibatkan pak Hasan sehari-harinya berdiam
diri saja di hotel. Beberapa kali istrinya mengajaknya ke masjidil
Haram, tetapi rupanya tubuh pak Hasan tidak bisa diajak kompromi, ia
malas untuk pergi ke masjid.

"Aku
belum bisa bu, dan belum kuat untuk pergi ke masjid. Ibu dulu aja-lah.
Nanti setelah badanku sembuh aku akan ke masjid dan akan melakukan
ibadah dengan sebaik-baiknya. .." demikian kata pak Hasan kepada
istrinya.

Karena
sudah beberapa kali, jawaban pak Hasan selalu seperti itu, maka pada
hari itu istri pak hasan memohon dengan agak setengah memaksa kepada
pak Hasan agar siang itu mereka bisa bersama ke masjid untuk melakukan
ibadah. Baik itu thawaf, maupun shalat-shalat wajibnya.

Maka
dengan agak terpaksa, berangkat juga mereka ke masjid. Pak Hasan di
sepanjang perjalanan menuju masjid tiada henti-hentinya batuk. Bahkan
kakinya begitu capek dipakai untuk berjalan. Tetapi toh, akhirnya
sampai juga mereka di masjidil Haram. Meskipun jarak dari maktab mereka
menuju masjid cukup jauh.

Sesampai
di masjid, mereka mencari tempat yang cukup nyaman. Pak Hasan dan
istrinya melakukan thawaf sunah sebagai penghormatan masuk masjidil
Haram, sebelum mereka melakukan ibadah lainnya.

Ketika
pak Hasan dan istrinya melakukan thawaf inilah bagian dari cerita ini
dimulai… Dengan terbata-bata, dan masih digandeng oleh istrinya pak
Hasan mulai melakukan thawaf. Diayunkannya kaki kanannya untuk memulai
thawaf.

"Bismillaahi
allaahu akbar…!"Demikian kalimat pertama yang dilontarkan pak Hasan
sebagai pertanda ia memulai thawafnya. Maka dengan hati-hati sekali,
karena khawatir badannya bertambah lunglai, pak Hasan melangkahkan
kakinya berjalan memutari Ka’bah. Pada saat pak Hasan beberapa langkah
memulai thawafnya itu, tiba-tiba di sebelah kanannya, yang hampir
berhimpitan dengan pak Masan, ada seorang bertubuh kecil yang juga
bergerak melakukan thawaf, beriringan dengan pak Hasan. Entah apa yang
menyebabkan pak Hasan tertarik dengan orang ‘kecil’ itu, sambil
berjalan lambat pak Hasan memperhatikan orang itu lebih seksama .
"Mengapa orang itu tubuhnya pendek, bahkan cenderung seperti anak
kecil?" pikirnya.

Setelah
beberapa lama pak Hasan memperhatikan orang tersebut, di tengah riuhnya
para jamaah yang juga sedang melakukan thawaf itu, tiba-tiba pak Hasan
menjerit lirih! " akh… !" katanya.

Begitu
terkejutnya pak Hasan, sampai-sampai pak Hasan agak terhenti
langkahnya. Anehnya, orang itu pun ikut berhenti sejenak, kemudian
menoleh kepada pak Hasan sambil tersenyum. Ketika pak Hasan berjalan
lagi, dia pun berjalan lagi, dan terus mengikuti di samping pak Hasan.
Ketika pak Hasan mempercepat langkah kakinya, orang itu pun ikut
mepercepat gerakannya, sehingga tetap mereka berjalan beriringan.

Muka
pak Hasan kelihatan pucat pasi. Bibirnya agak gemetar menahan tangis.
Ia betul-betul terpukul oleh perilaku orang tersebut. Seperti dengan
sengaja, orang itu terus mengikuti gerakan pak Hasan dari samping
kanan. Bahkan yang membuat pak Hasan mukanya pucat adalah orang
tersebut selalu tersenyum, setelah menoleh ke arah pak Hasan. Siapakah
orang tersebut ?

Ternyata
dia adalah seorang yang berjalan dan bergerak thawaf mengelilingi
ka’bah dengan hanya menggunakan kedua tangannya saja. Dia orang yang
tidak memiliki kaki….! Kedua kakinya buntung sebatas paha. Sehingga
ia berjalan hanya dengan menggunakan kedua tangannya.

Bulu kuduk pak Hasan merinding, jantungnya seolah berhenti berdegub. Keringat dingin membasahi seluruh pori-pori tubuhnya…
Pak Hasan merintih dalam hatinya :
"…ya
Allaah ampuni aku ya Allaah…, ampuni aku…" Air mata pak Hasan tidak
bisa dibendung lagi. Sambil tetap berjalan pak Hasan terus mohon ampun
kepada Allah.

Tanpa
terasa, pak Hasan sudah memutari ka’bah untuk yang ke dua kalinya. Dan
pak Hasan pun masih terus menangis. Ingin rasanya ia berlari memutari
ka’bah itu. Ingin rasanya ia menjerit keras-keras untuk melampiaskan
emosinya…. pak Hasan tidak tahu bahwa pada putaran yang ke dua itu ia
sudah tidak bersama lagi dengan orang tanpa kaki tersebut. Tidak tahu
ke manakah perginya orang cacat itu. Seorang yang selalu tersenyum
meskipun tanpa kedua kaki.

Apa
gerangan yang dipikirkan pak Hasan saat itu? Pak Hasan begitu malu pada
dirinya sendiri! Apalagi kepada Allah Swt. Pak Hasan merasa bahwa
memang sakit. Sakit flu, batuk, badan capek. Dan sudah beberapa hari
berdiam diri saja di hotel tidak ke masjid untuk thawaf. Dengan alasan
badan capek, tenggorokan sakit, bahkan obat dokter tidak ada yang bisa
menyembuhkannya.

Sekarang,
ditengah-tengah hiruk pikuknya para jama’ah yang sedang melakukan
thawaf, ternyata ada seorang yang tidak punya kaki, yang kondisi
tubuhnya sangat menyedihkan, tapi dengan mulut tersenyum ia melakukan
thawaf…Akh! betapa terpukulnya harga diri pak Hasan. Ia punya kedua
kaki, badannya tegap, pikirannya cerdas, datang jauh dari Indonesia,
tetapi terserang penyakit ringan sejenis flu saja sudah tidak mau
beribadah? Sementara orang itu…..

Sungguh
pak Hasan tidak kuasa bicara lagi. Ingin rasanya ia menjerit mohon
ampunan Allah Swt…. Atas kesalahan fatal, yang ia lakukan. Dan sejak
saat itu, pak Hasan tiba-tiba dapat bergerak gesit. Ia berjalan penuh
dengan semangat mengelilingi ka’bah pada putaran-putaran berikutnya.
Dan secara tidak ia sadari badan pak Hasan menjadi kuat. Ia tidak
batuk-batuk lagi, bahkan tenggorokannya terasa begitu ringan, ketika
dipakai untuk berdo’a kepada Allah…!

Istri
pak Hasan yang berjalan di samping pak Hasan, tidak mengetahui secara
detail, apa yang terjadi dalam diri pak Hasan. Yang ia tahu tiba-tiba
pak Hasan tidak batuk lagi, jalannya tidak lamban, bahkan cenderung
gesit. Ah, rupanya pak Hasan sudah sembuh

Ia
disembuhkan oleh Allah lewat ‘peragaan’ orang cacat, yang selalu
tersenyum meskipun ia tidak punya kaki. Obat dokter tidak bisa
menyembuhkan pak Hasan, justru thawaf seorang cacat-lah, yang menjadi
obat mujarabnya..

Mengapa bisa demikian ?

Sebab
begitu pak hasan menyadari akan kesalahannya, ia langsung mohon ampun
sejadi-jadinya atas kekeliruan yang telah ia lakukan. Penyesalan yang
tiada terhingga itulah rupanya obat yang sesungguhnya.

QS. Hud (11) : 3
Dan
hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya.
(Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi
kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang
telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang
mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.

QS. Hud (11) : 90
Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.

Sembuhnya
pak Hasan, karena rasa penyesalan yang mendalam. Sembuhnya pak Hasan
karena ia bertaubat pada saat itu juga. Sembuhnya pak Hasan, karena
Allah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu itu telah meridhainya.
Sembuhnya pak Hasan karena Allah memberikan sebuah obat berupa sebuah
adegan atau suguhan menarik, yang sangat mempengaruhi jiwa pak Hasan.

QS. Asy-Syuaraa’ (26) : 80-82
dan
apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan
mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat
kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat".

Sila Baca: Kisah Brother Yusuf Islam

November 5th, 2007 by boruff

Cat Stevens : How I Came To Islam

 

By : Cat Stevens 

Presented by : www.zaharuddin.net


Read about it

 

All I have to say is all what
you know already, to confirm what you already know, the message of the
Prophet (Sallallahu alaihi wa sallam) as given by God - the Religion of
Truth. As human beings we are given a consciousness and a duty that has
placed us at the top of creation. Man is created to be God’s deputy on
earth, and it is important to realize the obligation to rid ourselves
of all illusions and to make our lives a preparation for the next life.
Anybody who misses this chance is not likely to be given another, to be
brought back again and again, because it says in Qur’an Majeed that
when man is brought to account, he will say, {O Lord, send us back and
give us another chance} The Lord will say, {If I send you back you will
do the same}

cat stevens

MY EARLY RELIGIOUS UPBRINGING

I was brought up in the
modern world of all the luxury and the high life of show business. I
was born in a Christian home, but we know that every child is born in
his original nature - it is only his parents that turn him to this or
that religion. I was given this religion (Christianity) and thought
this way. I was taught that God exists, but there was no direct contact
with God, so we had to make contact with Him through Jesus - he was in
fact the door to God. This was more or less accepted by me, but I did
not swallow it all.

I looked at some of the
statues of Jesus; they were just stones with no life. And when they
said that God is three, I was puzzled even more but could not argue. I
more or less believed it, because I had to have respect for the faith
of my parents.

pop star

POP STAR

Gradually I became alienated
from this religious upbringing. I started making music. I wanted to be
a big star. All those things I saw in the films and on the media took
hold of me, and perhaps I thought this was my God, the goal of making
money. I had an uncle who had a beautiful car. "Well," I said, "he has
it made. He has a lot of money." The people around me influenced me to
think that this was it; this world was their God.

I decided then that this was
the life for me; to make a lot of money, have a ‘great life.’ Now my
examples were the pop stars. I started making songs, but deep down I
had a feeling for humanity, a feeling that if I became rich I would
help the needy. (It says in the Qur’an, we make a promise, but when we
make something, we want to hold onto it and become greedy.)

So what happened was that I
became very famous. I was still a teenager, my name and photo were
splashed in all the media. They made me larger than life, so I wanted
to live larger than life and the only way to do that was to be
intoxicated (with liquor and drugs).

 

with family

 

IN HOSPITAL

After a year of financial
success and ‘high’ living, I became very ill, contracted TB and had to
be hospitalized. It was then that I started to think: What was to
happen to me? Was I just a body, and my goal in life was merely to
satisfy this body? I realized now that this calamity was a blessing
given to me by Allah, a chance to open my eyes - "Why am I here? Why am
I in bed?" - and I started looking for some of the answers. At that
time there was great interest in the Eastern mysticism. I began
reading, and the first thing I began to become aware of was death, and
that the soul moves on; it does not stop. I felt I was taking the road
to bliss and high accomplishment. I started meditating and even became
a vegetarian. I now believed in ‘peace and flower power,’ and this was
the general trend. But what I did believe in particular was that I was
not just a body. This awareness came to me at the hospital.

One day when I was walking
and I was caught in the rain, I began running to the shelter and then I
realized, ‘Wait a minute, my body is getting wet, my body is telling me
I am getting wet.’ This made me think of a saying that the body is like
a donkey, and it has to be trained where it has to go. Otherwise, the
donkey will lead you where it wants to go.

Then I realized I had a will,
a God-given gift: follow the will of God. I was fascinated by the new
termino- logy I was learning in the Eastern religion. By now I was fed
up with Christianity. I started making music again and this time I
started reflecting my own thoughts. I remember the lyric of one of my
songs. It goes like this: "I wish I knew, I wish I knew what makes the
Heaven, what makes the Hell. Do I get to know You in my bed or some
dusty cell while others reach the big hotel?" and I knew I was on the
Path.

I also wrote another song,
"The Way to Find God Out." I became even more famous in the world of
music. I really had a difficult time because I was getting rich and
famous, and at the same time, I was sincerely searching for the Truth.
Then I came to a stage where I decided that Buddhism is all right and
noble, but I was not ready to leave the world. I was too attached to
the world and was not prepared to become a monk and to isolate myself
from society.

I tried Zen and Ching,
numerology, tarot cards and astrology. I tried to look back into the
Bible and could not find anything. At this time I did not know anything
about Islam, and then, what I regarded as a miracle occurred. My
brother had visited the mosque in Jerusalem and was greatly impressed
that while on the one hand it throbbed with life (unlike the churches
and synagogues which were empty), on the other hand, an atmosphere of
peace and tranquillity prevailed.

THE QUR’AN

When he came to London he
brought back a translation of the Qur’an, which he gave to me. He did
not become a Muslim, but he felt something in this religion, and
thought I might find something in it also.

And when I received the book,
a guidance that would explain everything to me - who I was; what was
the purpose of life; what was the reality and what would be the
reality; and where I came from - I realized that this was the true
religion; religion not in the sense the West understands it, not the
type for only your old age. In the West, whoever wishes to embrace a
religion and make it his only way of life is deemed a fanatic. I was
not a fanatic, I was at first confused between the body and the soul.
Then I realized that the body and soul are not apart and you don’t have
to go to the mountain to be religious. We must follow the will of God.
Then we can rise higher than the angels. The first thing I wanted to do
now was to be a Muslim.

I realized that everything
belongs to God, that slumber does not overtake Him. He created
everything. At this point I began to lose the pride in me, because
hereto I had thought the reason I was here was because of my own
greatness. But I realized that I did not create myself, and the whole
purpose of my being here was to submit to the teaching that has been
perfected by the religion we know as Al-Islam. At this point I started
discovering my faith. I felt I was a Muslim. On reading the Qur’an, I
now realized that all the Prophets sent by God brought the same
message. Why then were the Jews and Christians different? I know now
how the Jews did not accept Jesus as the Messiah and that they had
changed His Word. Even the Christians misunderstand God’s Word and
called Jesus the son of God. Everything made so much sense. This is the
beauty of the Qur’an; it asks you to reflect and reason, and not to
worship the sun or moon but the One Who has created everything. The
Qur’an asks man to reflect upon the sun and moon and God’s creation in
general. Do you realize how different the sun is from the moon? They
are at varying distances from the earth, yet appear the same size to
us; at times one seems to overlap the other.

Even when many of the
astronauts go to space, they see the insignificant size of the earth
and vastness of space. They become very religious, because they have
seen the Signs of Allah.

When I read the Qur’an
further, it talked about prayer, kindness and charity. I was not a
Muslim yet, but I felt that the only answer for me was the Qur’an, and
God had sent it to me, and I kept it a secret. But the Qur’an also
speaks on different l I began to understand it on anothlevel, where the
Qur’an says, {Those who believe do not take disbelievers for friends
and the believers are brothers} Thus at this point I wished to meet my
Muslim brothers.

CONVERSION

Then I decided to journey to
Jerusalem (as my brother had done). At Jerusalem, I went to the mosque
and sat down. A man asked me what I wanted. I told him I was a Muslim.
He asked what was my name. I told him, "Stevens." He was confused. I
then joined the prayer, though not so successfully. Back in London, I
met a sister called Nafisa. I told her I wanted to embrace Islam and
she directed me to the New Regent Mosque. This was in 1977, about one
and a half years after I received the Qur’an.

Now I realized that I must
get rid of my pride, get rid of Iblis, and face one direction. So on a
Friday, after Jumma’ I went to the Imam and declared my faith (the
Kalima) at this hands. You have before you someone who had achieved
fame and fortune. But guidance was something that eluded me, no matter
how hard I tried, until I was shown the Qur’an. Now I realize I can get
in direct contact with God, unlike Christianity or any other religion.
As one Hindu lady told me, "You don’t understand the Hindus. We believe
in one God; we use these objects (idols) to merely concentrate." What
she was saying was that in order to reach God, one has to create
associates, that are idols for the purpose. But Islam removes all these
barriers. The only thing that moves the believers from the disbelievers
is the salat. This is the process of purification.

Finally I wish to say that
everything I do is for the pleasure of Allah and pray that you gain
some inspirations from my experiences. Furthermore, I would like to
stress that I did not come into contact with any

Muslim before I embraced
Islam. I read the Qur’an first and realized that no person is perfect.
Islam is perfect, and if we imitate the conduct of the Holy Prophet
(Sallallahu alaihi wa sallam) we will be successful. May Allah give us
guidance to follow the path of the ummah of Muhammad (Sallallahu alaihi
wa sallam). Ameen

BELOW IS CAT STEVENS ( YUSOF ISLAM) BIOGRAPHY

SOURCE 

The British singer-songwriter
known as Cat Stevens has had many identities in his life: popstar, folk
singer, and, most recently, Muslim activist. After a highly successful
career in musicduring which he sold over 25 million albums, Stevens
left public life in 1979 and took the name Yusuf Islam, becoming a
devout Muslim active in cultural education causes in Britain.

Born in London in 1948 to a Swedish mother and a Greek Cypriot father,
Stephen Demetri Georgiou was educated in Sweden, where he studied
native songs and dances aswell as classical music. In the ’60s he
returned to London, where his father owned a restaurant, and entered
Hammersmith College art school.Georgiou began performing guitar-based
folk-pop under the name Cat Stevens, andbecame a regular in local pubs
and coffeehouses. Stevens soon attracted the attention ofindependent
record producer Mike Hurst, a former member of the folk-pop group the
Springfields; in the summer of 1966 Stevens recorded a demo with Hurst,
who shopped it around Britain and landed Stevens a deal with the new
label Deram Records.

At 19 years of age Stevens released his debut album, Matthew And Son, a
pop-rock record which became a hit in the U.K., the title single and "I
Love My Dog"both charting in the Top 10. Stevens toured Britain as part
of a bizarre package tour withJimi Hendrix and Engelbert Humperdink,
and released his sophomore effort New Masters the following year. The
1967 album marked the start of Stevens’ long-timecollaboration with
singer/guitarist Alun Davies, but was a commercial failure. (A
singlefrom New Masters, "The First Cut Is the Deepest," became a hit
for Rod Stewartin the 1970s.)

Several years of wild living caught up with Stevens in 1969, when, near
death,he was diagnosed with tuberculosis and spent a year in the
hospital undergoing treatment.While recovering, Stevens underwent a
spiritual crisis and began studying Eastern religions, practicing
vegetarianism, and writing highly introspective songs. A changed man,
Stevenssigned a new record deal with Island, who had just landed a U.S.
distribution agreement withA&M, and began recording new material.

Stevens’ first A&M release, 1970’s Mona Bone Jakon, was a solid
album that established Stevens’ new image as a sensitive
singer-songwriter. His next record, Tea for the Tillerman, was released
later that same year to overwhelming success.With the hit singles "Wild
World" and "Father and Son," the album became an instantfolk-pop
classic and went to No. 1 in the U.S., earning gold status.

Before Tillerman Stevens had toured America several times, playing
acoustic guitar as an opening act for rock bands like King Crimson and
Seatrain; after TillermanStevens began headlining extravagant
performances, replete with magicians and tigers, dancers and back-up
singers. An unprecedented prime-time appearance on ABC’s"In Concert"
program cemented his status as a U.S. superstar.

1971’s Teaser and the Firecat repeated Tillerman’s success and
contained theinternational anti-war hit "Peace Train." The album also
spawned a children’s book andshort film. 1972’s Catch a Bull at Four
was Stevens’ first and only No. 1 album, and was followed the next year
by the less-acclaimed The Foreigner, which wentto No. 3.

In 1973 Stevens’ brother David visited Israel and, aware of his
brother’s fascination withreligion, returned with a copy of the Koran
as a souvenir. Stevens was awed bythe book and began studying Islam.
His next album, 1974’s The Buddah and the Chocolate Box, reached No. 2
in the U.S. but marked the end of Stevens’ most fertileperiod as a
performer, his growing interest in Islam slowly eclipsing his
songwriting.

1975’s Numbers was an ill-fated concept album that was the first of
Stevens’recordings to peak below the Top 10 in Britain. Sensing that
the end was near, A&M issued a Greatest Hits collection that June.

In 1977 Stevens made a pilgrimage to Jerusalem and released the pop
album Izitso,a commercial album that was decried by long-time fans as a
sellout. In December of thatyear Stevens formally converted to Islam at
a London mosque, taking the new nameYusuf Islam. A&M released what
was to be the last Cat Stevens album, Backto Earth, in early 1978; by
1979 Stevens/Islam had married and retired from pop music.

During the 1980s Islam settled in London with his wife and five
children and became very involved in the local Muslim community,
founding one of Britain’s topIslamic schools. Meanwhile A&M
released a second "greatest hits" package in 1984(entitled Footsteps in
the Dark), which included previously unreleased songs Stevens recorded
for the 1971 cult movie Harold and Maude.

Yusuf Islam had nearly faded from public consciousness when in 1989 he
made the infamous announcement that he supported the Ayatollah
Khomeini’s death sentence for Satantic Verses author Salman Rushdie.
American radio stations stopped playing Cat Steven songs in protest –
WNEW in New York even gave away free copies of The Satanic Verses to
listeners who turned in their old Cat Stevens records.

In 1995 Islam released his first "record" since retiring from pop
music, a two-CD set calledThe Life of the Last Prophet which features
one disc of Muslim chanting andanother disc of Yusuf Islam reading a
66-minute biography of Muhammad. Though it was ignored in the West, the
double-album reached No. 1 in Turkey and was a hit in most of the
Muslim world, where it was lauded by critics.

In 1997 Yusuf Islam announced that he is working on an album of Bosnian
songs and poems,including a new song Islam wrote about Muslim children
killed in the Balkan wars.

Comments
Written by Kak Rose on 2007-10-30 21:56:57

Semoga
kisah Brother Yusuf menjadi iktibar kepada kita. Beliau bertuah diberi
hidayah oleh Allah. Kita yang telah dilahirkan sebagai orang lslam
tidak pernah bersyukur atau terfikir bagaimana sekiranya kita
dilahirkan sebagai orang Cina, India atau apa bangsa sekali pun dan
tidak diberi hidayah oleh Allah. Maka kita akan terus dihumban ke dalam
neraka tanpa hisab. Pernah tak kita terfikir perkara ini? sigh
Written by mujahid on 2007-10-29 12:52:57

semoga
cerita ini menjadi inspirasi kepada muslim dan
non-muslim…tanggungjawab kita utk menyebarkan agama Islam kepada
makhluk-NYA
Written by hnib on 2007-10-25 09:34:00

semoga
lebih ramai non muslim dan muslim (hanya pada nama, tidak pada hati)
akan berfikir seperti cat steven, mencari tuhan yang sebenar.
Written by mohd on 2007-10-24 18:44:59

yg
menyebabkan cat stevens boleh sampai ke agama islam ialah kerana dia
banyak berfikir tentang hakikat diri dan alam sekeliling. Dan
beruntunglah orang yg menggunakan akal untuk mencari kebenaran.
Written by kandare on 2007-10-23 14:40:50

al-hidayah
is something very expensive awarded by Allah to those who struggle
searching for it. May those who still non-muslim do ponder about the
truth of their religion.

" The truth is only in ISLAM"

Written by msrizal on 2007-10-22 19:58:45

how to purify our soul?
Written by atie on 2007-10-22 18:20:21

Allahuakbar    
Written by tudge on 2007-10-22 18:25:13

semoga lebih ramai mendapat hidayah seperti saudara yusuf islam. amin
Written by raIHaN on 2007-10-22 12:19:12

Subhanaullah..i can’t hold my tears..
May u be the reason that others also embrace islam..
Written by Shiha on 2007-10-22 12:35:38

Salam..

Saya mula mengenali Yusuf Islam melalui lagunya "Wild World"  ) 

Bagi
saya, lirik lagu ni lebih kepada rintihan seorang bapa kepada anak
perempuannya [berbanding dengan rayuan seorang teman lelaki kepada
teman perempuan yang nak meninggalkannya]. 

Sangat teringin nak berjumpa dengan beliau  )

Kelemahan Dalil membaca Qur’an di Kubur - jawapan kpd Sdr Mohd Shauki (Utusan)

October 23rd, 2007 by boruff

KELEMAHAN DALIL MEMBACA QUR’AN DI KUBURAN.

Oleh Mohd Yaakub bin Mohd Yunus 
 

Jumhur
(majoriti) para ulamak bersetuju bahawa ziarah kubur merupakan satu
amalan yang sunnah kerana ianya telah dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w.
melalui sebuah hadis sahih:
 
 

“…maka berziarah kuburlah kamu, kerana hal itu mengingatkan kepada kematian.” - Hadis riwayat Imam Muslim 

Begitu
juga telah jelas bagi para ulamak bahawa disunnahkan untuk memberi
salam serta mendoakan kesejahteraan kepada jenazah ketika menziarah
kubur. Aisyah r.a berkata:
 
 

“Bahawasanya
Nabi s.a.w. pernah keluar ke Baqi’ (tempat pemakaman kaum Muslimin),
lalu baginda mendoakan mereka.” Kemudian ‘Aisyah bertanya tentang hal
itu, baginda menjawab: “Sesungguhnya aku diperintah untuk mendoakan
mereka.”
–  Hadis riwayat Imam Ahmad
 
 

Di antara doa-doa yang telah diajar oleh Rasulullah s.a.w adalah: 
 

“Salam
sejahtera hai penghuni kubur mukminin dan muslimin dan insya Allah kami
akan menyusulmu. Aku mohon keselamatan kepada Allah bagi kami dan
kalian.”
- Hadis riwayat Imam Muslim
 
 

“Salam
sejahtera hai penghuni kubur mukminin dan muslimin, semoga Allah
memberi rahmat kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian
dari kami dan insya Allah kami akan menyusul.”
– Hadis riwayat Imam Muslim
 
 

Namun begitu
para ulamak telah berselisih pendapat tentang hukum membaca al-Qur’an
di kuburan untuk mensedekahkan pahalanya kepada penghuni kubur
tersebut. Yang lebih menepati pandangan Imam al-Syafi’i r.h adalah
kiriman pahala tersebut tidak sampai dan beliau berhujah dengan firman
Allah S.W.T. :
 
 

(Dalam
Kitab-kitab itu ditegaskan): Bahawa sesungguhnya seseorang yang boleh
memikul tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain (bahkan dosa
usahanya sahaja); Dan bahawa sesungguhnya tidak ada (balasan) bagi
seseorang melainkan (balasan) apa yang diusahakannya.
- Al-Najm : 38-39
 
 

Telah berkata al-Hafidz Ibnu Kathir r.h di dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-Adzim ketika mentafsirkan ayat di atas: 
 

“Iaitu
sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain demikian juga
seseorang tidak akan memperolehi ganjaran (pahala) kecuali apa-apa yang
telah dia usahakan untuk dirinya sendiri. Dan dari ayat yang mulia ini
Imam al-Syafi’i bersama para ulamak yang mengikutinya telah
mengeluarkan hukum bahawa bacaan al-Qur’an tidak akan sampai hadiah
pahalanya kepada orang yang telah mati. Kerana bacaan tersebut bukan
dari amal dan usaha mereka. Oleh kerana itu Rasulullah s.a.w. tidak
pernah mengsyari’atkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan
al-Qur’an kepada yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarinya
atau memberikan petunjuk kepada mereka baik dengan nash (dalil yang
jelas lagi terang) dan tidak juga dengan isyarat dan tidak pernah
dinukilkan dari seorangpun sahabat (bahawa mereka pernah mengirim
pahala bacaan al-Qur’an kepada orang yang telah mati). Jika sekiranya
amalan itu baik tentu para sahabat telah mendahului kita
mengamalkannya. Dan di dalam masalah ibadah ianya hanya terbatas pada
dalil dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas atau
pendapat-pendapat.”
 
 

Imam al-Nawawi r.h pula di dalam Syarah Muslim (jilid 1, ms. 90) telah berkata: 
 

Adapun bacaan
al-Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada simati) maka yang masyhur
di dalam mazhab Syafi’i tidak dapat sampai kepada si mati yang dikirim…
Sedang dalilnya bagi Imam al-Syafi’i dan pengikut-pengikutnya ialah
firman Allah:
 
 

“bahawa sesungguhnya tidak ada (balasan) bagi seseorang melainkan (balasan) apa yang diusahakannya.” 
 

Dan Sabda Nabi s.a.w.: 
 

“Apabila
manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya kecuali
tiga hal iaitu sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak soleh
(lelaki atau perempuan) yang berdoa untuknya.”
– Hadis riwayat Imam al-Tirmidzi.
 
 

Imam Muzani r.h di Hamish al-Umm telah berkata: 
 

“Rasulullah
s.a.w. memberitahukan sebagaimana yang diberitakan Allah, bahawa dosa
seseorang akan menimpa dirinya sendiri seperti halnya amalnya adalah
untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain dan tidak dapat dikirimkan
kepada orang lain.” – Rujuk tepi al-Umm, al-Syafi’i, jilid 7, ms. 269
 
 

Al-Haitami r.h pula berkata: 
 

“Si mati tidak boleh dibacakan apa pun berdasarkan keterangan yang mutlak daripada ulamak mutaqaddimin
(terdahulu) bahawa bacaan (yang pahalanya ingin dikirimkan) adalah
tidak sampai kepadanya, sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya
sahaja. Sedang pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan dari yang
mengamalkan perbuatan itu berdasarkan firman Allah: “Dan bahawa sesungguhnya tidak ada (balasan) bagi seseorang melainkan (balasan) apa yang diusahakannya.– rujuk al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah, jilid 2, ms. 9
 
 

Imam al-Khazin r.h  di dalam tafsirnya mengatakan sebagai berikut: 
 

“Dan yang masyhur dalam mazhab Syafi’i bahawa pahala bacaan al-Qur’an adalah tidak dapat sampai kepada si mati yang dikirim.” – rujuk al-Jamal, jilid 4, ms. 236  
 

Tambahan pula
membaca al-Qur’an di kawasan perkuburan menyalahi sunnah Rasulullah
s.a.w., karena baginda menyuruh kita membaca al-Qur’an di rumah:
Sabdanya:
 
 

“Janganlah
kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan, karena sesungguhnya
syaitan akan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah.”
- Hadis riwayat Imam Muslim

 
 
Hadis
ini menunjukkan bahawa bahawa kawasan perkuburan bukanlah tempat untuk
membaca al-Qur’an sebagaimana di rumah. Menerusi hadis ini juga kita
dapat fahami bahawa dilarang menjadikan rumah seperti kuburan yang
tidak dibaca al-Qur’an. Jumhur ulamak salaf seperti Imam Abu Hanifah,
Imam Malik, Imam al-Syafi’i, Imam Ahmad dan imam-imam yang lain
melarang membaca al-Qur’an di perkuburan.

 
 
Sebagai contoh Imam Abu Dawud r.h berkata dalam kitab Masaa’il Imam Ahmad (ms. 158):
 
 

“Aku mendengar Imam Ahmad ketika beliau ditanya tentang baca al-Qur’an di pemakaman? Beliau menjawab: “Tidak Boleh” 
 

Menurut Ibnu
Taimiyyah r.h : “Daripada al-Syafi’i sendiri tidak terdapat perkataan
tentang masalah ini, yang demikian ini menunjukkan bahwa (baca
al-Qur-an di perkuburan) menurut beliau adalah bidaah. Imam Malik
berkata: Tidak aku dapati seorang pun daripada para sahabat dan tabi’in yang melakukan hal itu. – rujuk Iqtidhaa’ Shirathal Mustaqim, ms. 380
 
 

Bagi para
ulamak yang mendokong pendapat bahawa diharuskan membaca al-Qur’an di
perkuburan mereka telah berhujah dengan beberapa hadis. Namun demikian
hadis-hadis tersebut telah dikritik hebat oleh ulamak-ulamak hadis dan
mereka telah melemahkannya bahkan ada juga di antaranya yang bertaraf mawdhu’ (palsu). Sebagai contoh mari kita melihat beberapa dalil-dalil yang sering digunakan.
 
 

HADIS PERTAMA:

“Barangsiapa
yang menziarahi kuburan kedua orang tuanya setiap hari Jumaat, lalu
membaca (surat Yasin) di sisi keduanya (di sisinya), nescaya diampuni
baginya sebanyak bilangan setiap ayat atau huruf (yang dibacanya).

 
 
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn ‘Ady, Abu Nu’aim di dalam Akhbaar Ashfahaan, Abdul Ghani al-Maqdisi di dalam as-Sunan dari jalur Abu Mas’ud, Yazid bin Khalid (dia berkata), telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ziyad
(yang berkata), telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaim
ath-Tha’ifi, daripada Hisyam bin ‘Urwah, daripada ayahnya (‘Urwah),
daripada ‘Aisyah, daripada Abu Bakar ash-Shiddiq secara marfu’.
 
 

Kelemahan
hadis ini terletak kepada periwayatnya yang bernama ‘Amr bin Ziyad. Dia
dituduh suka mencuri hadis daripada para periwayat yang tsiqat
(terpercaya) dan memalsukan hadis. Di antara ulamak yang menyatakan
demikian adalah Ibn ‘Ady dan al-Daraquthni. Oleh itu hadis ini
darjatnya palsu (mawdhu’) – diringkaskan dari Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah Wal Mawdhuu’ah karya Syaikh al-Albani, Jilid.1, no.50.
 
 

HADIS KEDUA:

Barangsiapa
yang melalui kuburan, kemudian membaca surah al-Ikhlas sebelas kali,
lalu di hadiahkan pahalanya kepada mayat, maka akan diberi balasan
pahala sesuai jumlah jenazah yang ada di perkuburan tersebut.
 
 

Hadis ini
diriwayatkan oleh al-Khallal dan al-Dailami. Namun demikian perawi yang
terdapat dalam sanad hadis ini telah dikritik oleh al-Dzahabi, al-Hafiz
Ibnu Hajar, Ibnu Iraq dan menurut Syaikh al-Albani hadis ini batil
bahkan mawdhu’ (palsu). – Diringkaskan dari Ahkaamul Janaa’iz wa Bida’uha oleh Syaikh al-Albani.
 
 

HADIS KETIGA:

Barangsiapa
yang berziarah di kuburan kemudian dia membaca al-Fatihah, Qul
Huwallahu Ahad dan Alhakumut takasur lalu dia berdoa. "Ya Allah, ku
hadiahkan pahala pembacaan Firman-Mu pada kaum Mukminin penghuni kubur
ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafaat) pada
hari kiamat
 
 

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu al-Qasim Sa’id bin Ali al-Zanjani dalam kitab Fawa’idnya.
al-Mubarakfuri telah mengemukakannya ketika membanding hujah-hujah
pendapat yang berkata boleh membaca al-Qur’an di kubur dan
menghadiahkan pahala kepada ahli kubur. Setelah mengemukakan hadis ini
dan dua yang lain (satu darinya ialah Hadis Kedua di atas), beliau
menukil pendapat al-Hafiz Syamsuddin bin Abdul Wahid al-Maqdisi yang
menerangkan bahawa hadis-hadis dalam bab ini semuanya lemah, akan
tetapi boleh dihimpunkan untuk dijadikan dalil bahawa amalan sedemikian
memiliki dasar dalam agama.
 
 

Namun pendapat
al-Hafiz Syamsuddin ini dikritik oleh al-Mubarakfuri. Beliau
menegaskan, tidak semua hadis yang lemah apabila dihimpun dapat
dijadikan dalil bahawa amalan tersebut memiliki dasar dalam agama.
Untuk mengatakan sesuatu amalan itu memiliki dasar, seseorang itu
hendaklah mengemukakan dalil dengan sanad yang sahih. – diringkaskan dari Tuhfah al-Ahwazi bi Syarh Jami’ al-Tirmizi oleh al-Mubarakfuri, jilid. 3, ms. 275

 

Apa pun jua
hadis ini sebenarnya tidak terdapat dalam mana-mana kitab hadis utama
dan al-Mubarakfuri juga menukilnya tanpa sanad. Ini menunjukkan betapa
terpencilnya hadis ini disisi para ulamak hadis.
 
 

HADIS KEEMPAT

Bacakanlah surah Yasin untuk orang-orang yang akan mati (mautaakum) di antara kamu.  
 

Hadis ini diriwayat Imam Abu Dawud, Ibnu Majah dan juga Imam Ahmad dari jalur Sulaiman al-Taimi, daripada Abu ‘Utsman, daripada Ayahnya, daripada Ma’qil bin Yasar. Lafaz ini adalah daripada kitab Sunan Abu Dawud. Status hadis ini sebenarnya masih diperbincangkan oleh para ulamak hadis. Namun apa yang lebih tepat status hadis ini adalah dha’if (lemah). Menurut al-Dzahabi, Ibnul Madini, Ibnul Mundzir, Ibnul Qaththan dan al-Nawawi, Abu ‘Utsman adalah seorang yang majhul (tidak dikenali). Manakalanya ayahnya juga dianggap majhul oleh Ibnul Mundzir, Ibnul Qaththan dan al-Nawawi. 
 

Sekiranya hadis ini sahih sekalipun, mautaakum bukan bermaksud orang yang sudah mati tetapi orang yang hampir mati. Perhatikanlah sabda Rasulullah s.a.w. ini: 
 

Ajarkanlah oleh kamu orang-orang yang akan / hampir mati (mautaakum) di antara kamu La ilaaha illallahu. - Hadis riwayat Imam Muslim  
 

Apa yang diperintah oleh Nabi s.a.w. di atas adalah untuk mengajar orang yang sedang menghadapi maut bacaan La ilaaha illallah. 
 

Masih terdapat
beberapa lagi hadis-hadis yang digunakan oleh golongan yang membenarkan
pembacaan al-Qur’an di kuburan. Hanya sahaja hadis-hadis tersebut tidak
sunyi dari kritikan oleh para ulamak hadis. Telah sepakat oleh para
ulamak bahawa hadis-hadis dha’if (lemah) dan mawdhu’
(palsu) tidak boleh dijadikan hujah untuk perkara-perkara berkaitan
akidah dan penetapan hukum-hakam (seperti mewajibkan mahupun menetapkan
hukum sunat terhadap sesuatu amal). Hanya sahaja para ulamak berbeza
pendapat tentang kebolehan mempergunakan hadis dha’if (lemah) dengan syarat-syarat yang ketat untuk bab fadilat amal atau targhib dan tarhib. Apa pun jua perbincangan tentang hukum membaca al-Qur’an di kuburan tidak termasuk dalam bab fadilat amal mahupun targhib dan tarhib maka hadis dha’if tidak boleh dijadikan hujah.
 
 

Dari sini
dapat kita rumuskan bahawa amalan yang lebih menepati sunnah Rasulullah
s.a.w. ketika menziarah kuburan hanyalah memberi salam dan mendoakan
kesejahteraan mayat di perkuburan tersebut. Inilah amalan yang
benar-benar sah daripada Rasulullah s.a.w. Oleh itu ziarahlah kubur
kerana ianya boleh mengingatkan kita kepada kematian tetapi
hindarkanlah diri dari melakukan amalan-amalan bidaah di perkuburan dan
janganlah mengkhususkan hari perayaan yang tertentu untuk menziarah
kubur sebagaimana yang diamalkan oleh penganut agama-agama lain.
 
 

Harus juga
kita fahami bahawa al-Qur’an ini diturunkan bertujuan untuk memberi
peringatan bagi mereka yang hidup. Firman Allah S.W.T.:
 
 

“(Al-Quran
ini) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (dan umatmu wahai
Muhammad), -Kitab yang banyak faedah-faedah dan manfaatnya, untuk
mereka memahami dengan teliti kandungan ayat-ayatnya, dan untuk
orang-orang yang berakal sempurna beringat mengambil iktibar.”
 – Shaad : 29
 
 

Di dalam surah Yasin yang sering dibacakan di kuburan juga terdapat firman-Nya: 
 

“Supaya ia (al-Qur’an) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup…” - Yasin : 70 
 

Telah berkata Abdul Hakim bin Amir Abdat: 
 

“Allah S.W.T.
menyatakan dengan tegas bahwa al-Qur’an ini menjadi peringatan untuk
orang-orang yang hidup, dan ayat ini terdapat di dalam surah Yasin.
Sedangkan saudara-saudara kita membacakan surah Yasin ini di hadapan
orang-orang yang mati. Subhanallah! Kejahilan apakah ini namanya?” - al-Masaa-il : Masalah-Masalah Agama, jilid 1, ms. 302
 
 

Penulis juga
ingin mengingatkan kepada semua pihak supaya menghindarkan diri dari
menyebarkan hadis-hadis palsu kerana ianya termasuk dalam perbuatan
berdusta di atas nama Rasulullah s.a.w. Perbuatan yang keji ini telah
diberikan amaran yang keras oleh Rasulullah s.a.w. sendiri. Menurut
Imam al-Thahawi r.h di dalam kitabnya Musykilul Athar (jilid 1, ms.176):
 
 

“Barangsiapa yang menceritakan (hadis) daripada Rasulullah s.a.w. atas dasar zhan / persangkaan, bererti dia telah menceritakan (hadis) daripada baginda s.a.w. dengan tanpa haq (dengan tidak benar). Dan orang yang menceritakan (hadis) daripada baginda s.a.w. dengan tanpa haq,
bererti dia telah menceritakan (hadis) daripada baginda s.a.w. dengan
cara yang batil. Dan orang yang telah menceritakan (hadis) dari baginda
s.a.w. dengan cara yang batil, nescaya dia menjadi salah seorang
pendusta yang masuk ke dalam sabda Nabi s.a.w.:
 
 

“Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka.” - Hadis riwayat Imam al-Bukhari

Bezakan antara sunnah menziarahi kubur dengan bid’ah baca al-Quran di kubur

October 23rd, 2007 by boruff

"Amat
mendukacitakan apabila ada beberapa individu yang memegang jawatan
agama dalam Negara ini masih mengambil ringan ketika meriwayatkan
sesuatu hadith. Sebagai contohnya tulisan oleh Saudara Mohd. Shauki
Abd. Majid, Pengurus Penyelidikan Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia
(Yadim). bertajuk “Amalan Ziarah Kubur Bukan Bidaah” yang disiarkan di
dalam akhbar ini pada Jumaat, 19/10 yang lalu.
"

 

Bezakan antara sunnah menziarahi kubur dengan bid’ah baca al-Quran di kubur

Oleh: Abdul Kadir

 Agama
Islam amat berbeza sekali dengan agama-agama lain ciptaan manusia,
Islam ada displinnya yang tersendiri. Apabila kita berbicara tentang
Islam, bermakna kita berbicara tentang kalam Allah dan kalam Rasulullah
saw. Ini kerana kalam Allah dan kalam Rasul ini adalah sumber utama
kepada agama Islam itu sendiri.

Mengambil
ringan menukilkan sesuatu dari kalam Allah adalah satu kesalahan yang
besar. Demikian juga mengambil ringan dalam menukilkan sesuatu dari
kalam al-Rasul (al-Hadith) adalah suatu kesalahan yang besar juga,
bimbang perbuatan mengambil ringan ini, menjerumuskan kita meriwayatkan
sesuatu hadith yang bukan dari Nabi saw, baginda bersabda:

“Sesiapa yang berbohong ke atas-ku secara sengaja, maka ambillah satu tempat di dalam neraka.” (HR Imam Muslim).

Al-Imam
al-Nawawi ketika mensyarahkan hadith ini berkata: “Ketahuilah, hadith
ini mengandungi beberapa faedah dan kaedah: (salah satunya) Diharamkan
periwayatan hadith yang palsu bagi sesiapa yang mengetahui keadaan
sesuatu hadith itu palsu atau sangkaan banyaknya mengatakan hadith itu
palsu. sesiapa yang meriwayatkan satu hadith yang palsu dalam keadaan
dia tahu atau sangkaan beratnya menyatakan hadith itu palsu, sedangkan
dia tidak menjelaskan kepalsuannya ketika meriwayatkannya, maka dia
termasuk dalam ancaman ini (ancaman di dalam hadith di atas), termasuk
di dalam orang-orang yang berbohong atas Rasulullah saw… kerana itu
para ulama berkata: Semestinya bagi sesiapa yang hendak meriwayatkan
satu hadith atau menyebutnya hendaklah melihat (memastikan) ianya
adalah hadith yang sahih atau hasan.” (Syarh Sahih Muslim. Al-Maktabah
al-‘Asriah, Beirut. Jld 1, m.s. 64-66).

Amat
mendukacitakan apabila ada beberapa individu yang memegang jawatan
agama dalam Negara ini masih mengambil ringan ketika meriwayatkan
sesuatu hadith. Sebagai contohnya tulisan oleh Saudara Mohd. Shauki
Abd. Majid, Pengurus Penyelidikan Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia
(Yadim). bertajuk “Amalan Ziarah Kubur Bukan Bidaah” yang disiarkan di
dalam akhbar ini pada Jumaat, 19/10 yang lalu.

Di
dalam tulisan tersebut Mohd. Shauki cuba mempertahankan amalan membaca
al-Quran di tanah perkuburan dengan mendatangkan hadith yang lemah dan
palsu. hadith tersebut ialah:

“Barang
siapa berziarah ke kuburan kedua-dua orang tua atau salah satu di
antara mereka pada setiap hari Jumaat dan membacakannya surah Yasin,
maka dia akan diampuni dosanya dan dihitung sebagai kebaikan.”  Ini adalah hadith pertama yang dijadikan sandaran oleh Mohd. Shauki di dalam tulisan beliau, tanpa beliau nyatakan darjatnya. Sebenarnya hadith ini adalah satu hadith yang tidak sahih. al-Syaukani di dalam al-Fawaid al-Majmu’ah mengatakan hadith ini Palsu (m.s. 271. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah). Al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawaid mengatakan hadith ini Lemah (jld 3, m.s. 87, Dar al-Fikr, Beirut). Al-Albani mengatakan hadith ini Palsu di dalam al-Silsilah al-Dhoiefa,( jld 1, m.s. 126, Maktabah al-Maarif al-Riyadh). Demikian juga Ibn al-Jauzi di dalam al-Maudhuaat dan al-Zahabi di dalam Mizan al-I’tidal, semua
ulama hadith yang saya sebutkan ini menyatakan hadith ini adalah hadith
yang tidak sahih, mereka mendatangkan dengan beberapa lafaz yang ada
sedikit perbezaannya, yang penting hadith itu adalah hadith yang tidak
sahih bahkan Palsu.Apabila ulama
hadith menyatakan hadith itu palsu, ia bermaksud hadith itu bukanlah
hadith yang diucapkan oleh Nabi saw. Sebaliknya ia adalah ucapan
individu lain, kemudian dinisbahkan kepada Nabi saw secara palsu dan
dusta. Hadith palsu ini, jika dibiarkan berterusan disampaikan kepada
orang ramai ianya akan merosakkan agama dan akan menyebabkan orang
ramai salah faham terhadap agama.Selain
hadith ini, saudara Mohd. Shauki juga berdalilkan dari sebuah hadith
lain yang agak pelik bunyinya, kononnya diriwayatkan dari Abu Hurairah
r.a. iaitulah: “Barang siapa yang
berziarah di kuburan, kemudian ia membaca al-Fatihah, Qul Huwa llahu
Ahad dan Alhakumut takasur, lalu ia berdoa “Ya Allah, kuhadiahkan
pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mukminin penghuni kubur ini, maka
mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafaat) pada hari
kiamat.”Saya cuba mencari hadith ini
di dalam perician cd carian hadith-hadith Nabi saw, namun malang saya
tidak ketemuinya. Apabila saya cuba mencarinya dari Internet saya
dapati hadith ini ada di dalam lamanweb sufi majelisrasulullah.org,
situs artikel-artikel hot Indonesia dan sebuah laman percuma geocities
yang sama terjemahannya tanpa perbezaan dan ketiga-tiga lamanweb itu
tidak menyatakan sumber ambilan hadith tersebut.Persoalannya
apakah benar ada kelebihan membaca surah-surah tertentu di tanah
perkuburan ? Jika dilihat kepada hadith-hadith yang sahih dari Nabi
saw, kita akan dapati keadaan yang sebaliknya. Sebagai contoh hadith
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam sahihnya, Nabi saw bersabda:

 

“Jangan
kamu semua menjadikan rumah-rumah kamu seperti tanah perkuburan, maka
sesungguhnya Syaitan lari bertempiaran daripada rumah yang dibaca di
dalamnya surah al-Baqarah.” (HR Muslim dan al-Tirmizi daripada hadith
Abu Hurairah)

Berdasarkan
hadith ini, ia menunjukkan tanah perkuburan bukanlah tempat membaca
al-Quran. ini kerana Nabi saw telah menyamakan rumah yang tidak dibaca
al-Quran di dalamnya dengan tanah perkuburan. Ini sekaligus memberi
isyarat tanah perkuburan itu bukan tempat untuk membaca al-Quran.
Hadith sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini jelas bertentangan
maksudnya dengan hadith yang tidak diketahui darjatnya dari Mohd.
Shauki di atas. Di samping itu, Abu Daud di dalam kitab Masailnya
(m.s. 158) berkata: ‘Aku mendengar (Imam) Ahmad telah ditanya tentang
bacaan al-Quran di sisi kubur, lalu dia menjawab: Tidak dibaca
(al-Quran) di sisi kubur.”

Al-Syeikh Muhammad Redha, yang menulis tafsir al-Manar
berkata: “Ketahuilah bahawasanya apa yang masyhur tersebar di kalangan
orang Badwi dan bukan badwi dari membaca al-Fatihah kepada mayat tidak
terdapat petunjuk dari satu hadith yang sahih mahupun yang dhoief,
ianya termasuk di dalam bid’ah yang bertentangan dengan nas-nas yang
qat’yyah, akan tetapi ianya berlaku disebabkan senyapnya orang-orang
yang memakai pakaian ulama dan persetujuan mereka terhadap perbuatan
tersebut, disamping ianya berterusan di lakukan oleh orang awam dalam
bentuk (seolah-olah) ianya termasuk perkara sunat yang digalakkan atau
termasuk dalam perkara fardhu yang dituntut.” (8/268)

Al-Syeikh
Hamid al-‘Attar pula di dalam lamanweb yang memuatkan fatwa-fatwa
terkini tokoh-tokoh ulama semasa dunia Arab, islam-online.net
(http://www.islamonline.net/livefatwa/arabic/Browse.asp?hGuestID=0m2vUm)
berkata: “Adapun bacaan al-Quran sekitar tanah perkuburan juga adalah
masaalah khilafiah, sebahagian mengatakannya bid’ah dan sebahagian yang
lain mengharuskannya. Dan pendapat yang mengatakannya bid’ah adalah
lebih rajih (kuat) dari sudut dalil disebabkan ketiadaan petunjuk yang
mengkhususkan tempat itu (tanah perkuburan untuk dibacakan al-Quran).
Dan tiadalah bacaan al-Quran di kubur itu satu faedah tertentu, tidak
ada juga kelebihan yang khusus, bahkan  sama seperti
orang yang membacanya di rumah, dan bacaan (al-Quran) yang dilakukan di
rumah itu adalah lebih afdhal sebagai keluar dari khilaf. Ketahuilah
bahawasa bukan diambil kira pada membaca surah tertentu seperti
al-Fatihah (kepada mayat), dan tindakan mengkhususkannya (suarh
al-Fatihah) kepada mayat adalah suatu tindakan membuat syariat yang
tidak diizinkan oleh Allah, yakni ia termasuk di dalam bid’ah, akan
tetapi yang diambil kira ialah nilai/niat orang yang membacanya dan
keikhlasan bacaannya, maka berdasarkan itu, anda boleh membaca
mana-mana surah yang anda suka tanpa berkeyakinan adanya keutamaan pada
satu surah tertentu.”

Semua
fatwa dari beberapa ulama yang saya nukilkan di atas menunjukkan
membacakan al-Quran di kubur dan mengkhususkan bacaan tertentu ketika
menziarahi kubur itu tidak ada dari petunjuk Nabi saw. Disamping hadith
dari Imam Muslim di atas sudah cukup untuk menguatkan pandnagan
ulama-ulama tersebut kerana  tanah perkuburan bukanlah tempat untuk dibacakan al-Quran di dalamnya.

Berkenaan
ziarah kubur pada hari raya, Dr. Wahbah al-Zuhaili berkata: “Ziarah
kubur pada hari raya adalah suatu yang bertentangan dengan sunnah,
adalah Nabi saw melarang ziarah kubur pada hari raya, kerana hari raya
adalah hari untuk bergembira bukan hari untuk bersedih dan
berduka-cita.” (sila lihat fatwa al-Zuhaili di dalam lamanweb rasminya
http://www.zuhayli.net/index.htm)

Fatwa
Dr. Wahbah al-Zuhaili ini bertepatan puls dengan hadith Nabi saw yang
melarang dari menjadikan kubur baginda sebagai tempat perayaan
sepertimana hadith yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah
r.a.  

Menziarah
kubur bukanlah suatu yang terlarang di dalam agama, bahkan ia suatu
yang amat digalakkan. Demikian juga menyedekahkan pahala bacaan
al-Quran kepada mayat bukan suatu yang ditegah di dalam agama
berdasarkan pendapat kebanyakan para ulama, selama ia dilakukan dengan
ikhlas tanpa mengharapkan sebarang bayaran.. Yang ditegah ialah
menetapkan suatu bacaan surah yang khusus untuk ditujukan kepada mayat
dan menetapkan hari yang tertentu untuk menziarahinya, semuanya
dilakukan di tanah perkuburan.

Perbuatan
menetapkan surah yang khusus dan hari yang tertentu untuk mayat itu
perlu kepada tunjuk ajar dari Nabi saw. Demikian juga
perbuatan meletakkan ada kelebihan membaca al-Quran di tanah
perkuburan, semuanya memerlukan petunjuk dari Nabi saw.  Jika baginda
tidak memberitahukannya kepada kita bagaimana kita berani menentukannya
?

  

Wallahu a’lam.

Sumber:

http://al-qayyim.dtdns.net/v01/index.php?option=com_content&task=view&id=214&Itemid=2

WHAT REALLY HAPPEN TO JOSE MOURINHO…u can see the logic in this article. pls read.

September 24th, 2007 by boruff

‘Tears, hugs and two icy handshakes’

      
      

      
           Jose
Mourinho’s reign at Chelsea ended emotionally, with warm dressing-room
embraces for 23 of his players - and a cold handshake for Andriy
Shevchenko and skipper John Terry. His departure, though, was a long
time coming. Duncan Castles reports

         

      


      
      
          Sunday    September 23, 2007
The Observer


         
      

       Tuesday,
10pm, home dressing room, Stamford Bridge. Andriy Shevchenko is taking
Michael Essien to task on his performance in the night’s embarrassing
1-1 draw with Rosenborg. The former European footballer of the year
tells Africa’s finest midfielder that he tried to make too many passes
through the centre of the Norwegians’ formation where ‘70 percent of
their players were’. Essien learns he should have been passing to the
wings ‘where they only had 30 percent of their men’.

Not the most insightful of tactical advice, but then these are not the
thoughts of a Ukraine international, they are those of a Russian
billionaire. Standing beside Shevchenko, tactics board in hand, Roman
Abramovich is the man telling Essien how to play football. Shevchenko
is merely there to translate. In another room, attending to the press,
Mourinho is utterly unaware of his employer’s actions.

Tuesday,
7:11pm, the home dressing room. Chelsea’s squad of 18 are called out
for their pre-match warm up. All the players step out for the carefully
prepared drill - except one. John Terry remains sitting where he is.
One of Jose Mourinho’s assistants urges Terry out. Chelsea’s captain
refuses, swears, and, according to an eye witness, says he is upset and
has ‘things on my mind’. Terry is said to be furious after finding out
that Mourinho had been asking in Chelsea’s treatment room whether there
was a medical reason for his perceived loss of form over recent weeks.
The stand-off continues until a team-mate cajoles his friend out on to
the pitch.

The game starts, Chelsea quickly lose a goal at a free
kick as Miika Koppinen stretches ahead of Terry to turn in a near-post
cross. Chelsea go in at half time 1-0 down and Jose Mourinho takes his
captain to task, blaming the defender for the deficit. Terry says
nothing but all his team-mates can see the anger on his face.

The
pair had once been the closest of footballing allies, but within 24
hours Mourinho is no longer Terry’s manager as Chelsea agree to a
£10.5million pay-off to rid themselves of a man they describe as ‘the
most successful manager the club has known’.

‘The relationship
broke down not because of one detail or because of something that
happened at a certain moment. It broke down over a period of time.’ -
Jose Mourinho, 21 September 2007.

To understand how the winner of
two Premier League titles, two League Cups and one FA Cup, a man who
averaged an unprecedented 2.33 points from his 120 Premiership games in
just over three seasons, steadily became persona non grata at the club
he made great, it is necessary to return to the summer of 2005.

‘In
Jose’s first season everything was fine,’ said a Chelsea employee who
suffered the Abramovich guillotine long before the Portuguese. ‘He came
in, he won the title by miles, almost made the Champions League final,
everyone was happy. But then it all began to go wrong. Peter Kenyon
started thinking it was his genius as a chief executive that was
important. Abramovich’s mates were telling him his money had done it
and any half-decent coach would win the league with those resources.
They forgot that the most important man at any club is the manager.’

That
summer, Chelsea poached Tottenham Hotspur’s sporting director Frank
Arnesen at a cost of £5m. Ostensibly recruited to revolutionise the
club’s sub-standard youth ranks, the Dane was actually brought in on
the recommendation of Piet de Visser, a well-known Dutch talent scout
who had advised Abramovich on football matters from his first months as
Chelsea owner.

Arnesen and De Visser, friends and allies from
their time together at Dutch club PSV Eindhoven, steadily worked to
influence Abramovich’s thinking on the first team, and, most
importantly, player recruitment. Along with the agents Soren Lerby,
Vlado Lemeic and Pini Zahavi they sought to steer Abramovich towards
the purchase of certain footballers. Their objective, according to one
source, was ‘to get to Abramovich’s money. To do that they needed power
at the club, needed a manager who would do what they wanted. Mourinho
was not that manager.’

Thus emerged a power struggle in which
Arnesen and others seemed to undermine Mourinho by questioning him at
every opportunity. When Mourinho went to war with Uefa over the actions
of referees they told Abramovich his coach was embarrassing the club.
When Mourinho’s team dourly won key matches by a goal to nil, they told
the owner a better coach would win by more goals and bring him far more
flamboyant football. When a Mourinho signing failed to perform on the
pitch, they told Abramovich that better players could be found
elsewhere.

Within a year, and despite Mourinho’s success in
claiming a second successive Premiership, the manager had lost control
of transfers. In the 2006 summer window, Mourinho asked the board to
buy Samuel Eto’o; they spent a UK record £30m on Shevchenko. Chelsea
sold William Gallas to Arsenal against Mourinho’s wishes, and forced
the £7m Khalid Boulahrouz upon him, while Arnesen compounded the error
of allowing Chelsea’s most effective defender to leave the club by
pulling the plug on the £5m purchase of Micah Richards. Inside a season
Richards was a full England international, while Boulahrouz was
stinking out the reserves until Chelsea paid Sevilla to take him off
their hands.

At least Mourinho could easily leave the Dutch
defender out of the first team. A personal friend of Abramovich’s,
Shevchenko played regardless of his performances, and those were
usually awful. In his first 26 appearances for Chelsea, the Ukrainian
striker scored five goals. His coaches and team-mates often felt as
though Chelsea were playing with 10 men and Mourinho was faced with a
problem - should he leave out the owner’s pal or lose the faith of the
rest of the team?

As January approached, Mourinho asked to be
allowed to sign a new striker. The board refused. Mourinho asked for a
centre-back to cover for Terry, then sidelined with a serious back
problem. The board offered him a choice between Alex, a Brazilian
bought via De Visser and ‘parked’ at PSV for two seasons, and Tal Ben
Haim, a Zahavi client. Mourinho wanted neither.

Worse still,
Chelsea’s manager was instructed to sack one of his assistants and add
the Israeli Avram Grant to his coaching staff. When he refused, the
club descended into open warfare.

Mourinho dropped Shevchenko
from his first team, leaking the story to a national newspaper in an
open challenge to Abramovich to sack him. On an emotional afternoon at
Stamford Bridge the manager first rallied his team around him, then
sent them out to overrun Wigan 4-0. Long before kick-off the Chelsea
supporters were chanting ‘Stand up for the Special One’ through
standing ovation after standing ovation.

An infuriated Abramovich
ceased attending games and instructed his advisors to find a
replacement coach. Mourinho let it be known that he would leave, but
only on payment of the outstanding value of his contract - about £28m
comprising £5.2m per annum for three-and-a-half years and up to £10m in
bonuses. In the meantime he kept winning matches, pushing his
injury-hit squad to within a few games of a remarkable quadruple.

Ultimately
Chelsea won the League Cup and the FA Cup, forcing Abramovich to
reconcile with his manager. A consciously ‘mellow’ Mourinho promised to
avoid conflict with opposing managers and football authorities,
accepted restrictions on his transfer budget, and reshaped his team in
a more flamboyant 4-4-2 formation. Fatefully, he also acceded to the
appointment of Grant as Chelsea’s director of football.

Though
some in Mourinho’s camp had Grant pinned as a ‘Mossad Spy’ from the
off, the manager attempted to work with him, holding long meetings with
him during the club’s staggeringly positive pre-season US tour and
letting it be known that he welcomed his arrival as a buffer against
Arnesen and route to Abramovich. The early-season optimism, however,
swiftly evaporated.

Grant began calling individual players aside to ask them questions.

‘You
look sad, why?’ ‘How do you feel in this position?’ ‘Is this the best
place for you to play?’ ‘Are we using your abilities well?’ Because
many of them complained about this to Mourinho, the manager decided to
cut back radically on team meetings, the only one this season having
been arranged for the Jewish New Year when Grant had returned to Israel.

While
Grant looked on at training, Shevchenko treated it with disdain. A
morose, lonely figure around the camp, he seemed to show more interest
in improving his golf swing than his shooting. As the first team
prepared for their final pre-season friendly against Danish side
Brondby, Shevchenko declared himself unfit with a back problem. A 2-0
victory ensured the £121,000-a-week striker was not missed, but
Mourinho was bemused to discover that Shevchenko’s bad back had not
prevented him from enjoying a round of golf at Sunningdale that day.

The
board, though, were not interested and the club’s descent continued.
Other players began to realise what was happening, that the summer’s
peace was a false one, that their manager had no support from the top.
‘The mentality became weaker and weaker,’ said one insider. ‘You could
feel the team’s strength sapping away.’

Mourinho knew his time at
Chelsea was coming to an end. At Uefa’s forum for elite coaches in
Geneva a fortnight ago he allowed Premier League rivals an insight into
his thinking. ‘Mourinho said he loved Chelsea and he loved English
football, but thought he would not stay for long,’ said one coach. ‘One
of us asked him why. He wouldn’t answer, but it was obvious something
was seriously wrong.’

His next Champions League match brought the
end. On Wednesday afternoon the board asked Mourinho to resign, citing
his handling of Shevchenko, his attitude to authority and, crucially,
his relationship with Terry as reasons why he should go. Mourinho
refused to walk, and fought only to maximise his pay-off as Chelsea
apparently threatened to call club employees to testify against him at
any employment tribunal.

A £10.5m pay-off was agreed and the
following morning Mourinho made a final trip to the training centre at
Cobham to pick up his possessions and say goodbye to his squad. There
was a message in each farewell. For most there was a Latin embrace and
warm words of thanks. For Didier Drogba and Frank Lampard the emotions
were so strong that both men were reduced to tears, Lampard retreating
to the shower room in an attempt to hide his. For Shevchenko and Terry
there was nothing but a handshake that, in the words of one observer,
could have ‘frozen a mug of tea’. No one was in any doubt about who he
considered the true captains of his team.

Out with the old, in
with the new. Furious at Mourinho’s dismissal, senior players describe
Grant’s appointment as ‘a disgrace’. Some at Cobham call him ‘an idiot’
and describe his coaching techniques as ‘25 years behind the times’.
Abramovich pushes the Israeli around ‘without a hint of respect’.

Former
academy coach Brendan Rogers has been drafted in to help out with the
first team, a promotion that may not be unconnected to the one-on-one
training sessions he gave Abramovich’s son. Only in Steve Clarke is
there the level of football knowledge to deal with a squad full of
international superstars. As the sole survivor of Mourinho’s cadre of
four assistant managers, the Scotsman has an unenviable task.

But
then neither he nor Grant will be picking the team. As Michael Essien
discovered on Tuesday night, the new manager of Chelsea is also the
owner.

PEMBAHAGIAN HATI KEPADA HATI YANG SIHAT, SAKIT DAN MATI

September 24th, 2007 by boruff

Oleh : Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam bab pertama terjemahan KITAB IGHATSATUL LAHFAN

Hati Yang Sihat

Kerana ada hati yang disifatkan hidup dan sebaliknya maka keadaan hati dapat dibahagikan kepada 3 jenis. Pertama, hati yang  sihat
iaitu hati yang bersih yang seorang pun tidak akan selamat pada Hari
Kiamat kelak kecuali jika dia datang kepada Allah dengannya,
sebagaimana firman Allah,

"(Iaitu)
di hari harta dan anak-anak laki-laki tiada lagi berguna, kecuali
orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."
(Asy-Syu’ara’: 88-89).

Disebut qalbun salim (hati yang bersih, sihat) kerana sifat bersih dan sihat telah bersatu dengan hatinya, sebagaimana kata Al-Alim, Al-Qadir (Yang Maha Mengetahui, Mahakuasa). Di samping, ia juga merupakan lawan dari sakit dan aib.

Orang-orang berbeza pendapat tentang makna qalbun salim. Sedang yang merangkum berbagai pendapat itu ialah yang mengatakan qalbun salim iaitu
hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang menyalahi
perintah dan larangan Allah, bersih dan selamat dari berbagai syubhat
yang bertentangan dengan berita-Nya. Ia selamat dari melakukan
penghambaan kepada selain-Nya, selamat dari pemutusan hukum oleh selain
Rasul-Nya, bersih dalam mencintai Allah dan dalam berhukum kepada
Rasul-Nya, bersih dalam ketakutan dan berpengharapan pada-Nya, dalam
bertawakal kepada-Nya, dalam kembali  kepada-Nya, dalam
menghinakan diri di hadapan-Nya, dalam mengutamakan mencari redha-Nya
di segala keadaan dan dalam menjauhi dari kemungkaran kerana apa pun.
Dan inilah hakikat penghambaan (ubudiyah) yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah semata-mata.

Jadi, qalbun salim adalah
hati yang selamat dari menjadikan sekutu untuk Allah dengan alasan apa
pun. la hanya mengikhlaskan penghambaan dan ibadah kepada Allah
semata-mata, baik dalam kehendak, cinta, tawakal, inabah (kembali), merendahkan diri, khasyyah (takut), raja’(pengharapan),
dan ia mengikhlaskan amalnya untuk Allah semata-mata. Jika ia mencintai
maka ia mencintai kerana Allah. Jika ia membenci maka ia membenci
kerana Allah. Jika ia memberi maka ia memberi kerana Allah. Jika ia
menolak maka ia menolak kerana Allah. Dan ini tidak cukup kecuali ia
harus selamat dari ketundukan serta berhukum kepada selain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia
harus mengikat hatinya kuat-kuat dengan baginda untuk mengikuti dan
tunduk dengannya semata, tidak kepada ucapan atau perbuatan siapa pun
juga; baik itu ucapan hati, yang berupa kepercayaan; ucapan lisan,
yaitu berita tentang apa yang ada di dalam hati; perbuatan hati, yaitu
keinginan, cinta dan kebencian serta hal lain yang berkaitan dengannya;
perbuatan anggota badan, sehingga dialah yang menjadi hakim bagi
dirinya dalam segala hal, dalam masalah besar maupun yang kecil. Dia
adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga tidak mendahuluinya, baik dalam kepercayaan, ucapan maupun perbuatan, sebagaimana firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya." (Al-Hujurat: 1).

Ertinya, janganlah engkau berkata sebelum ia mengatakannya, janganlah berbuat sebelum dia memerintahkannya. Sebahagian orang salaf berkata,
"Tidaklah suatu perbuatan betapa pun kecilnya kecuali akan dihadapkan
padanya dua pertanyaan: Kenapa dan bagaimana?" Maksudnya, mengapa
engkau melakukannya dan bagaimana kamu melakukannya? Soalan pertama
menanyakan tentang sebab perbuatan, motivasi atau yang mendorongnya;
apakah ia bertujuan jangka pendek untuk kepentingan pelakunya,
bertujuan duniawi semata untuk mendapatkan pujian orang atau takut
celaan mereka, agar dicintai atau tidak dibenci ataukah motivasi
perbuatan tersebut untuk melakukan hak ubudiyah (penghambaan), mencari kecintaan dan kedekatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendapatkan wasilah (kedekatan) dengan-Nya.  

Inti
pertanyaan yang pertama adalah apakah kamu melaksanakan perbuatan itu
untuk Tuhanmu atau engkau melaksanakannya untuk kepentingan dan hawa
nafsumu sendiri? Sedang pertanyaan yang kedua merupakan pertanyaan
tentang mutaba’ah (mengikuti) Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam
soal ibadah tersebut. Dengan kata lain, apakah perbuatan itu termasuk
yang disyariatkan kepadamu melalui lisan Rasul-Ku atau ia merupakan
amalan yang tidak Aku syariatkan dan tidak Aku redhai? Yang pertama
merupakan pertanyaan tentang keikhlasan dan yang kedua pertanyaan
tentang mutaba’ah kepada Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, kerana sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan pun kecuali dengan syarat keduanya.

Jalan
untuk membebaskan diri dari pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan
keikhlasan dan jalan untuk membebaskan diri dari pertanyaan kedua iaitu
dengan merealisasikan mutaba’ah, selamatnya hati dari keinginan yang menentang ikhlas dan hawa nafsu yang menentang mutaba’ah. Inilah hakikat keselamatan hati yang menjamin keselamatan dan kebahagiaan.

Hati Yang Mati

Ialah
yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Ia tidak mengetahui Tuhannya,
tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah yang dicintai dan
diridhai-Nya. Ia bahkan selalu menuruti keinginan nafsu dan kelazatan
dirinya, meskipun dengan begitu ia akan dimurkai dan dibenci Allah. Ia
tidak mempedulikan semuanya, asalkan mendapat bahagian dan keinginannya
tidak kira Tuhannya rela atau murka. Ia menghamba kepada selain Allah;
dalam cinta, takut, harap, ridha dan benci, pengagungan dan kehinaan.
Jika ia mencintai maka ia mencintai kerana hawa nafsunya. Jika ia
membenci maka ia membenci kerana hawa nafsunya. Jika ia memberi maka ia
memberi kerana hawa nafsunya. Jika ia menolak maka ia menolak kerana
hawa nafsunya. Ia lebih mengutamakan dan mencintai hawa nafsunya
daripada keredhaan Tuhannya. Hawa nafsu adalah pemimpinnya, syahwat
adalah komandannya dan kelalaian adalah kenderaannya. Ia terbuai dengan
fikiran untuk mendapatkan tujuan-tujuan duniawi, mabuk oleh hawa nafsu
dan kesenangan. Ia akan dipanggil kepada Allah dan ke kampung akhirat
dari tempat ‘kejauhan’. Ia tidak mempedulikan orang yang memberi
nasihat, sebaliknya mengikuti setiap langkah dan keinginan syaitan.
Dunia terkadang membuatnya benci dan terkadang membuatnya senang. Hawa
nafsu membuatnya tuli dan buta selain dari kebatilan. Keberadaannya di
dunia sama seperti gambaran yang dikatakan kepada Laila,

"dia
musuh bagi orang yang pulang dan kedamaian bagi para penghuninya. Siapa
yang dekat dengan Laila tentu ia akan mencintai dan mendekati."

Maka
membaur dengan orang yang memiliki hati semacam ini adalah penyakit,
bergaul dengannya adalah racun dan menemaninya adalah kehancuran.

Hati Yang Sakit

Ialah
hati yang hidup tetapi cacat. Ia memiliki dua cabang yang saling
tarik-menarik. Ketika dia menang pertarungan itu maka di dalamnya
terdapat kecintaan kepada Allah, keimanan, keikhlasan dan tawakal
kepada-Nya, itulah cabang kehidupan. Di dalamnya juga terdapat
kecintaan kepada nafsu, keinginan dan usaha keras untuk mendapatkannya,
dengki, takabur, bangga diri, kecintaan berkuasa dan membuat kerusakan
di bumi, itulah cabang yang menghancurkan dan membinasakannya. Ia diuji
oleh dua penyeru: Yang satu menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya serta
hari akhirat, sedang yang lain menyeru kepada kenikmatan sesaat. Dan
dia akan memenuhi salah satu di antara keduanya yang mana paling dekat
letaknya dengan dirinya.

 

Hati yang pertama selalu tawadhu’, lemah
lembut dan sedar, hati yang kedua adalah kering dan mati, sedang hati
yang ketiga hati yang sakit; ia bisa lebih dekat pada keselamatan dan
bisa pula lebih dekat pada kehancuran.

Allah menjelaskan ketiga jenis hati itu dalam firman-Nya,

"Dan
Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula)
seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai sesuatu keinginan,
syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah
menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu dan Allah menguatkan
ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, agar Dia
menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi
orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya.
Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam
permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu
meyakini bahwa Al-Qur’an itulah yang haq dari Tuhanmu lalu mereka
beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah
Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang
lurus."
(Al-Hajj: 52-54).

Dalam
ayat ini Allah membagikan hati menjadi tiga macam: Dua hati terkena
fitnah dan satu hati yang selamat. Dua hati yang terkena fitnah adalah
hati yang di dalamnya ada penyakit dan hati yang keras (mati), sedang
yang selamat adalah hati orang Mukmin yang merendahkan dirinya kepada
Tuhannya, dialah hati yang merasa tenang dengan-Nya, tunduk, berserah
diri serta taat kepada-Nya.

Yang
demikian itu kerana hati dan anggota tubuh lainnya diharapkan agar
selamat dan tidak ada penyakit di dalamnya, dan melaksanakan tujuan
dari penciptaannya. Adapun penyimpangannya dari jalan lurus mungkin
kerana ia kering dan keras serta tidak melaksanakan apa yang semestinya
diinginkan daripadanya. Seperti tangan yang putus, hidung yang kemek
dan mata yang tak boleh melihat sesuatu. Atau kerana terdapat penyakit
dan kerosakan yang menghalanginya melakukan pekerjaan secara sempurna
dan berada dalam kebenaran. Oleh sebab itu, hati terbahagi menjadi tiga
jenis:

Pertama: Hati
yang sihat dan selamat, iaitu hati yang selalu menerima, mencintai dan
mendahulukan kebenaran. Pengetahuannya tentang kebenaran benar-benar
sempurna, juga selalu taat dan menerima sepenuhnya.

Kedua: Hati yang keras, yaitu hati yang tidak menerima dan tidak taat kepada kebenaran.

Ketiga: Hati
yang sakit, jika penyakitnya sedang menular maka hatinya menjadi keras
dan mati, dan jika ia berjaya mengalahkan penyakit hatinya maka hatinya
menjadi sehat dan selamat.

Apa
yang diperdengarkan oleh syaitan dari kata-kata dan yang dibisikkannya
dari berbagai keragu-raguan dan syubhat adalah merupakan fitnah
terhadap dua hati tersebut. Adapun hati yang hidup dan sehat maka dia
tetap tegar. Ia selalu menolak berbagai ajakan syaitan itu. Ia membenci
dan mengutuknya. Ia mengetahui bahawa kebenaran adalah yang sebaliknya.
Ia tunduk pada kebenaran, merasa tenang dengannya dan mengikutinya. la
mengetahui kebatilan apa yang dibisikkan syaitan. Karena itu iman dan
kecintaannya pada kebenaran semakin bertambah, sebaliknya ia semakin
mengingkari dan membenci kebatilan. Hati yang terfitnah dengan
bisikan-bisikan syaitan akan terus berada dalam keraguan, sedang hati
yang selamat dan sihat tak pernah terpengaruh dengan apa pun yang
dibisikkan syaitan.

Hudzaifah bin Al-Yamani Radhiyallahu Anhu berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Fitnah-fitnah
itu menempel ke dalam hati seperti tikar (yang di-anyam),
sebatang-sebatang. Hati siapa yang mencintainya, niscaya timbul noktah
hitam dalam hatinya. Dan hati siapa yang meng-ingkarinya, niscaya
timbul noktah putih di dalamnya, sehingga menjadi dua hati (yang
berbeda). (Yang satunya hati) hitam legam seperti cangkir yang
terbalik, tidak mengetahui kebaikan, tidak pula mengingkari
kemungkaran, kecuali yang dicintai oleh hawa nafsunya. (Yang satunya
hati) putih, tak ada fitnah yang membahayakannya selama masih ada
langit dan bumi."
(Diriwayatkan Muslim).

Baginda Shallallahu Alaihi wa Sallam menyamakan
hati yang sedikit demi sedikit terkena fitnah dengan anyaman-anyaman
tikar, yakni kekuatan yang meragutnya sedikit demi sedikit. Beliau
membahagi hati dalam menyikapi fitnah menjadi dua macam:

Pertama,
hati yang bila dihadapkan dengan fitnah serta merta mencintainya,
seperti bunga karang menyerap air, sehingga timbullah noktah hitam di
dalamnya. Demikianlah, ia terus menyerap setiap fitnah yang dihadapkan
padanya, sampai hatinya menjadi hitam legam dan terbalik. Inilah makna
sabda beliau "cangkir yang terbalik". Jika hati telah hitam
legam dan terbalik maka ia akan dihadapkan pada dua bencana dan
penyakit yang membahayakannya serta melemparkannya pada kebinasaan. Pertama, ia
memandang sesuatu yang baik sama dengan sesuatu yang buruk. Ia menjadi
tidak tahu mana yang baik, tidak pula mengingkari kemungkaran. Bahkan
mungkin kerana sangat kroniknya penyakit ini, sehingga ia mempercayai
bahwa yang baik itulah yang mungkar dan yang mungkar itulah yang baik,
yang haq adalah batil dan yang batil adalah haq. Kedua, ia menjadikan hawa nafsu sebagai pedoman apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia senantiasa tunduk dan mengikuti hawa nafsunya.

Kedua,
hati putih yang memancarkan cahaya iman, di dalamnya terdapat pelita
yang menerangi. Jika fitnah dihadapkan padanya ia mengingkari dan
menolaknya, sehingga hatinya pun menjadi semakin bercahaya, memancarkan
sinar dan semakin kukuh.

Fitnah-fitnah
yang menimpa hati itulah penyebab timbulnya penyakit hati. Di antara
fitnah-fitnah itu adalah fitnah syahwat dan syubhat, fitnah kesalahan
dan kesesatan, fitnah maksiat dan bid’ah, fitnah kezaliman dan fitnah
kebodohan. Kesemua fitnah-fitnah ini akan mengakibatkan rosaknya tujuan
dan keinginan serta rosaknya ilmu dan i’tiqad (kepercayaan).

Para sahabat Radhiyallahu Anhum membagikan hati menjadi empat macam. Demikian seperti disebutkan dalam riwayat yang shahih dari Hudzaifah bin Al-Yaman, "Hati itu ada empat macam: Pertama, hati murni yang di dalamnya ada pelita yang menyala, itulah hati orang Mukmin. Kedua, hati yang tertutup, itulah hati orang kafir. Ketiga, hati
yang terbalik, itulah hati orang munafik, ia mengetahui (kebenaran)
tetapi mengingkarinya, ia melihat tetapi membuta. Dan terakhir hati
yang terdiri dari dua cabang: Iman dan kemunafikan, mana yang menang
dalam pergelutan itulah yang menguasai. (Lihat Musnad Imam Ahmad, 3/17)

Adapun
yang dimaksud dengan hati murni iaitu hati yang bebas dari selain Allah
dan Rasul-Nya. Ia bebas dan selamat dari selain kebenaran. Di dalamnya
ada pelita yang menyala. Itulah pelita iman. Disebut murni kerana ia
selamat dari berbagai syubhat batil dan syahwat sesat, juga kerana di
dalamnya ia memperoleh pelita yang menyinarinya dengan cahaya ilmu dan
iman. Hati orang kafir disebut sebagai hati yang tertutup kerana hati
itu ada di dalam sampul dan penutup, sehingga tidak ada cahaya ilmu dan
iman yang sampai padanya, sebagaimana firman Allah mengisahkan tentang
orang-orang Yahudi,

"Mereka berkata, ‘Hati kami tertutup’." (Al-Baqarah: 88).

Penutup
itu Allah letakkan di atas hati mereka sebagai siksaan kerana penolakan
mereka terhadap kebenaran dan kebongkakan mereka sehingga tak mahu
menerima kebenaran. Ia adalah hati yang mati, pendengaran yang tuli,
penglihatan yang buta. Dan semua itu adalah dinding yang menutupinya
dari penglihatan.

"Dan
bila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan
orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding
yang tertutup dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan
di telinga mereka agar mereka tidak dapat memahaminya."
(Al-Isra’: 45-46).

Bila disebutkan pengesaan tauhid dan pengesaan mutaba’ah (ketaatan) maka orang-orang yang memiliki hati ini akan segera lari menjauhinya.

Hati orang munafik disebut sebagai hati yang terbalik, sebagaimana firman Allah,

"Maka
mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi)
orang-orang munafik, padahal Allah telah membalik-kan mereka kepada
kekafiran disebabkan oleh usaha mereka sendiri."
(An-Nisa’: 88).

Maksudnya
Allah membalikkan dan mengembalikan mereka pada kebatilan yang dahulu
mereka berada di dalamnya, disebabkan oleh usaha dan perbuatan mereka
yang salah. Inilah sejahat-jahat dan seburuk-buruk hati. la mempercayai
bahwa yang batil adalah benar dan setia kepada para pengikut kebatilan.
Sebaliknya, ia mempercayai bahwa yang haq itulah yang batil dan
memusuhi orang-orang yang mengikuti kebenaran. Wallahul musta’an (hanya kepada Allah kita memohon pertolongan).

Hati
yang di dalamnya terdapat dua cabang adalah hati yang imannya belum
mantap dan pelitanya belum menyala. Ia belum memurnikan dirinya untuk
kebenaran yang kerananya Allah mengutus para rasul. Ia adalah hati yang
berisi cabang kebenaran dan hal yang sebaliknya. Terkadang ia lebih
dekat dengan kekafiran daripada dengan keimanan. Dan pada kali lain, ia
akan lebih dekat dengan keimanan daripada dengan kekafiran. Kerana itu,
ia akan dikuasai oleh yang memenang dalam pergelutan antara keduanya.

… bersambung,

Jalan pulang ke pangkuan Allah terlalu luas!

September 23rd, 2007 by boruff

Oleh: DR. MOHD. ASRI ZAINUL ABIDIN

ANTARA keistimewaan
Islam yang agung ini adalah jalan pulang ke pangkuan agama ini amat
luas terbuka dan tidak membebankan. Peluang seorang insan kembali ke
pangkuan keampunan dan keredaan Allah tidak pernah disekat oleh
sebarang jarak waktu, latar diri, keturunan, atau harta.

 

Sesiapa
yang ingin pulang ke pangkuan Allah tidak pernah dihalang oleh agama
ini disebabkan jenis dosanya atau keturunan, usianya yang lanjut, atau
apa sahaja.

Seseorang yang ingin
kembali kepada Allah diterima oleh kerahmatan-Nya dengan syarat insan
tersebut menyesali kesilapannya, benar-benar memohon keampunan dan
berazam tidak mengulangi kesalahan lalu. Jika kesalahan itu sesama
insan lain, dia memohon maaf dari yang dizalimi. Jika tidak mampu,
bimbang mudarat yang lebih besar jika permohonan maaf dibuat, serahkan
sahaja urusannya itu kepada Allah dan Allah Maha Mengetahui kadar
kemampuan hamba-hamba-Nya.

Firman Allah dalam
surah Ali ‘Imran 135-136: (maksudnya) Dan mereka yang apabila melakukan
perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah
lalu memohon ampun dosa-dosa mereka - dan sememangnya tidak ada yang
mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah - dan mereka juga tidak
meneruskan (perbuatan buruk) yang mereka telah lakukan itu, sedang
mereka mengetahui (akan salahnya dan akibatnya). Orang- orang yang
demikian sifatnya, balasannya adalah keampunan dari Tuhan mereka, dan
syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal
di dalamnya; dan yang demikian itulah sebaik-baik balasan (bagi)
orang-orang yang beramal.

Islam bukan seperti
sesetengah ajaran yang menyuruh seseorang yang berdosa membuat
pengakuan di hadapan orang agama, atau melakukan upacara yang menyeksa
diri demi penghapusan dosa seperti melukakan diri atau berjalan atas
bara api atau membuat bayaran penebusan.

Demikian perbuatan sesetengah pihak mencari rezeki dengan mengambil upah untuk pelupusan dosa solat atau puasa
atau ibadah yang lain, bukan dari ajaran Islam. Islam tidak pernah
mengenal itu semua. Seperti Islam tidak pernah menerima sama sekalipun
perbuatan sesetengah agama lain yang mengeluarkan surat berbayar untuk
penghapusan dosa, demikian Islam tidak dapat menerima perbuatan
penganutnya jika melakukan hal yang sama dengan mengeluarkan borang
pahala yang dijual sempena Ramadan atau selainnya.

Keampunan dan rahmat
Allah bukan dijual di jalanan. Ia sangat berkaitan dengan keluhuran
jiwa yang ikhlas ingin kembali kepada Allah Yang Maha Pengampun. Jika
keampunan hanyalah bayaran yang dibayar kepada pihak tertentu, tentulah
semua orang kaya tempatnya di syurga.

Sementara si miskin
yang tidak mampu membayar kepada golongan agama tiadalah habuan
keampunan untuknya. Maka tidaklah perlu lagi seseorang berpegang dengan
agama, cukuplah dengan membanyakkan ongkos, maka selamatlah dia di sisi
Tuhan. Aduhai, tentu tidak demikian.

Firman Allah
(maksudnya) Hari yang padanya harta benda dan anak-pinak tidak dapat
memberikan manfaat sesuatu apapun. Kecuali orang yang datang menghadap
Allah dengan hati yang sejahtera. Dan (pada hari itu) didekatkan syurga
bagi orang- orang yang bertakwa. Dan diperlihatkan neraka jelas nyata
kepada orang-orang yang sesat. (surah al-Syu’ara 88-91).

Seseorang yang
berdosa pula, tidak disuruh mendedahkan dosanya kepada orang lain
sekalipun di hadapan ulama atau siapapun di kalangan manusia. Bahkan
dia disuruh bertaubat antara dia dengan Allah dan menutup keburukan
dirinya daripada orang lain. Nabi s.a.w. bersabda: Sesiapa yang menutup
(keburukan) seorang Muslim, Allah tutup (keburukannya) di dunia dan
akhirat. (Riwayat Muslim).

Termasuk dalam
perkataan Muslim itu diri insan yang berdosa itu sendiri, dia juga
tentu seorang Muslim. Maka dia wajib menutup keaiban dirinya. Maka
dalam Islam tidak ada ‘pengakuan dosa di hadapan paderi’. Sesiapa
sahaja yang berasa berdosa dan ingin kembali kepada Allah, maka dia
bertaubat di mana sahaja dia berada.

Sabda Nabi:
Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selagi nyawa belum
sampai ke halkumnya. (Riwayat al- Tirmizi, dinilai hasan oleh al-Albani).
Aduhai luasnya rahmat Allah dalam agama ini. Bahkan dalam sebuah hadis
kudsi, Allah berfirman: Wahai anak-anak Adam, selagi mana engkau
memohon dan mengharapkan dari-Ku, Aku ampunkan engkau walau apapun
dosamu, Aku tidak peduli. Wahai anak-anak Adam, jika dosamu sampai ke
puncak langit, lalu engkau pohon keampunan dari-Ku, Aku ampunkan
engkau, aku tidak peduli. Wahai anak-anak Adam, engkau jika datang
kepada-Ku dengan dosa yang hampir memenuhi bumi, namun engkau
menemui-Ku tanpa mensyirikkan Daku dengan sesuatu, nescaya aku datang
kepadamu dengan penuh keampunan. (Riwayat al-Tirmizi, dinilai hasan
oleh al-Albani).

Bahkan kita dilarang
kecewa dengan hidup disebabkan dosa yang lalu. Sebaliknya, disuruh agar
sentiasa memohon keampunan daripada Allah dan jangan kecewa dari
rahmat-Nya. Firman Allah dengan penuh syahdu dalam surah al-Zumar ayat
53: (maksudnya), Katakanlah: Wahai hamba- hamba-Ku yang telah melampaui
batas terhadap diri mereka sendiri (dengan perbuatan maksiat),
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, kerana sesungguhnya
Allah mengampunkan segala dosa; sesungguhnya Dialah jua Yang Maha
Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

Al-Imam Ibn Kathir
(meninggal 774H) ketika mentafsirkan ayat ini menyebut: “Ayat yang
mulia ini adalah panggilan untuk semua pembuat dosa dari kalangan yang
kufur dan selain mereka agar bertaubat dan kembali kepada Allah. Ayat
ini juga adalah pemberitahuan Allah Yang Maha Berkat Lagi Maha Tinggi
bahawa Dia mengampunkan segala dosa untuk sesiapa yang bertaubat dan
meninggalkannya, walau bagaimana besar dan banyak sekalipun dosa
tersebut. Sekalipun bagaikan buih di lautan”. (Tafsir al-Quran
al-‘Azim, 4/74, Beirut: Mussasah al-Rayyan).

Maka tidak ada kecewa
bagi insan yang berdosa. Sekalipun kadangkala ada dosa yang tidak dapat
dimaafkan oleh perasaan insan lain, namun Allah tidak pernah menutup
pintunya selagi insan yang berdosa itu insaf, benar-benar kembali
kepada-Nya.

Saya bicarakan tajuk
ini, sesuai dengan suasana puasa. Juga agar perbincangan agama,
janganlah menyebabkan manusia ini kecewa dengan diri mereka dalam
mencari jalan pulang ke pangkuan Tuhan.

Agama ini begitu
lunak. Pintu untuk mendekati Tuhan tidak pernah hanya dikhususkan untuk
orang tertentu semata. Bahkan sesiapa sahaja yang menerima Islam ini
dan berusaha mendekatkan diri dengan jalan Rasulullah maka dia akan
sampai ke dalam rahmat Allah.

Tiada perbezaan
antara mufti, ustaz, imam dan orang biasa. Tuhan tidak pernah menilai
insan dengan gelaran-gelaran yang diberikan oleh sesama manusia. Dia
melihat keluhuran jiwa dan kesahihan amalan. Entah berapa ramai orang
biasa lebih mulia di sisi Tuhan dibandingkan mereka yang bersandar
dengan berbagai-bagai gelaran dan pangkat. Jalan pulang ke pangkuan
Tuhan tidak pernah mendiskriminasikan manusia.

Kadangkala amat
menakutkan kita mendengar ucapan sesetengah orang. Saya pernah
mendengar seseorang menyebut “dosa- dosa si polan tidak akan diampunkan
Allah.” Ringan perkataan itu di lidah kita, amat berat kesalahannya di
sisi Allah.

Sejak bilakah pula
kita menjadikan wakil Tuhan dalam memutuskan rahmat atau kelaknatan di
kalangan hamba-hamba-Nya. Kita menolak manusia ingin kembali dataran
keampunan Allah hanya kerana emosi kita, sedangkan Allah sendiri
mengisytiharkan keluasan rahmat-Nya untuk semua.

Marilah kita
berkempen untuk manusia mendapatkan rahmat keampunan Allah ini. Bukan
untuk orang masjid dan surau sahaja, tetapi juga semua muda-mudi di
jalanan, artis di pentas, pemimpin di gelanggang politik dan
seterusnya. Jangan menghukum seseorang itu sebagai tidak berpeluang
menerima rahmat Allah sedangkan roh masih di jasadnya dan hukuman Allah
belum pun kita tahu.

Nabi bersabda: Jika
seseorang berkata: Binasalah manusia, maka dialah yang paling binasa.
(Riwayat Muslim). Hadis ini bermaksud apabila seseorang berkata dengan
tujuan merendahkan orang lain dan membanggakan dirinya seakan orang
lain tidak mendapat kerahmatan, maka dialah akan dibinasakan Allah.
Dakwah agama hendaklah merentasi sempadan-sempadan yang dibikin oleh
kita. Rahmat Allah mestilah disebarkan ke semua daerah hidup yang
pelbagai. Sama ada yang berada di gelanggang sukan, di pentas filem, di
medan politik atau apa sahaja.

Janganlah
perbincangan agama hanya menggambarkan seakan semua manusia akan
memasuki neraka semata, lalu kita lupa Allah ialah Tuhan Yang Maha
Rahmat. Ungkapan-ungkapan agama ini adalah ungkapan memberikan harapan,
bukan menimbulkan kekecewaan.

Sehingga dalam hadis
Nabi bersabda: Seorang telah melakukan satu dosa, lalu dia berkata:
Wahai Tuhanku ampunilah dosaku. Lalu Allah azza wa jalla berfirman:
Hamba-Ku melakukan dosa dan dia mengetahui bahawa baginya Tuhan yang
boleh mengampun dan menghukumnya – dalam riwayat yang lain ditambah:
Aku ampunkan dosanya. Kemudian dia kembali melakukan dosa yang lain,
dia berkata: Wahai Tuhanku aku telah melakukan dosa ampunilah dosaku.
Lalu Allah berfirman: Hamba-Ku melakukan dan dia mengetahui bahawa
baginya Tuhan yang boleh mengampun dan menghukumnya-dalam riwayat yang
lain ditambah: Aku ampunkan dosanya. Lalu dia melakukan dosa sekali
lagi, dia berkata: Wahai Tuhanku aku telah melakukan dosa ampunilah
dosaku. Lalu Allah berfirman: Hamba-Ku melakukan dan dia mengetahui
bahawa baginya tuhan yang boleh mengampun dan menghukumnya, maka aku
ampunkan hamba-Ku in, buatlah apa yang kau mahu Aku ampunkan engkau.
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini bukanlah
menggalakkan manusia melakukan dosa, tetapi menceritakan hal seorang
hamba yang bertaubat bersungguh-sungguh namun gagal mengawal dirinya
lalu tetap terjatuh ke dalam dosa. Setiap kali berdosa, dia ikhlas
memohon keampunan dan dia tetap diampun oleh Allah s.w.t.

Hadis ini memberikan
semangat kepada mereka yang telah bersalah berulang kali untuk terus
bertaubat bukan berputus asa dan terus mengikut jejak langkah syaitan.
Walaupun barangkali orang lain akan menyebut kepadanya “tidak guna kau
bertaubat, sudah berapa kali kau tetap gagal kekal atas taubatmu”,
namun Allah tidak berkata demikian. Dia Yang Maha Pengampun tetap
membuka pintu selagi hamba-Nya itu jujur dan ikhlas merintih kepada-Nya.

Jika Allah menutup
pintu, maka kekecewaan akan meliputi jiwa hamba yang seperti ini dan
akhirnya dia akan terus tenggelam dalam kejahatan. Namun dengan dibuka
seperti ini, insan akan terus berusaha kembali kepada Allah setiap kali
tergelincir.

Saya amat hairan, ada
agama tertentu yang dikatakan mempengaruhi emosi sesetengah anak-anak
muda kita disebabkan unsur kasih sayang dan rahmat berkenaan yang
ditonjolkan dalam agama. Seakan anak-anak muda kita tidak pernah
mendengar tentang keluasan rahmat dan keampunan Allah dalam Islam ini.
Lalu mereka pun kagum dengan agama lain dan melupai agama sendiri yang
diturunkan Allah ini.

Adakah kerana mereka
tidak mempelajari ajaran Islam yang betul? Ataupun kempen kita kepada
Islam kurang menonjolkan unsur-unsur kerahmatan agama ini?

Hendaklah kita sedar,
dalam dakwah baginda Nabi bukan hanya diceritakan balasan neraka, namun
diceritakan juga kenikmatan syurga. Bukan hanya tentang kemurkaan Allah
kepada yang menderhakai-Nya tetapi juga rahmat-Nya bagi yang kembali
kepada kepada-Nya.

Firman Allah dalam
surah al-Hijr 49-50: (maksudnya) Khabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku
(Wahai Muhammad), bahawa Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Mengasihani (bagi mereka yang bertaubat dan beramal soleh). Dan bahawa
azab-Ku, adalah azab yang tidak terperi sakitnya, (bagi mereka yang
tetap dalam kederhakaan).

Di suasana Ramadan
ini, semoga taubat mempunyai ruang yang besar dalam hidup kita. Manusia
disuruh takut melakukan dosa. Namun jangan kecewa jika tersilap. Di
samping insan juga hendaklah selalu beringat, bahawa dosa yang
terlampau setelah diberi peringatan, boleh menghilangkan ingatan insan
untuk kembali kepada Tuhan.

Firman Allah dalam
surah al-Baqarah ayat 6-7: (maksudnya) Sesungguhnya orang-orang yang
ingkar itu, sama sahaja kepada mereka: Sama ada engkau beri amaran
kepadanya atau engkau tidak beri amaran, mereka tidak akan beriman.
(Dengan sebab keingkaran mereka), Allah mematerikan atas hati mereka,
pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutupnya; dan
bagi mereka pula disediakan azab seksa yang amat besar.

- DR. MOHD. ASRI ZAINUL ABIDIN ialah Mufti Kerajaan Negeri Perlis.

E-mel: moasriza@yahoo.com

Layari http://drmaza.com/

Tribute to Jose 3

September 21st, 2007 by boruff

September 20, 2007

Farewell to the Special Coat

So farewell, José, soi-disant Special One and the man who will always
be remembered for his efforts to bring a little southern European style
to the dour English game.

Mourinhocoat_210773a_2Not
from a footballing point of view, of course. No, it’s a dress sense
thing. Who could forget the Armani (or was it Matalan) 3/4-length coat
of his first season? The bristling Clooney-esque buzz cut? The casually
unbuttoned shirts? The freakish ‘Val Kilmer in Top Gun’ quiff of this
August? Whichever way you look at it, young José cut a dashing figure
alongside such style luminaries as Surralexferrguson (padded mac and,
we suspect, shirt tucked into his Y-fronts) and Arsene Wenger (who
never quite lost the look of a man who’d just crawled out of bed and
hastily run an iron over his crinkled features).

If history has taught us anything, it’s that sacking a manager
mid-season rarely produces the results that the hierarchy are hungering
for. And yet, and yet. The vigorous young scamps who are at this very
moment lining up outside Roman’s palatial office with a PowerPoint
presentation in one hand and a long list of "wanted" players in the
other… well, many of them have their own inimitable look. There’s the
affable but sadly Spurs-tainted Jürgen Klinsmann, with a nice line in
rumpled casual suits; a Teutonic Mourinho in all but name. And playing
style. And possibly sense of humour. Then there’s the terribly serious
Frank Rijkaard, a man who may never escape the priceless image of his
impromptu attempt to bolster Dutch-German relations by spraying Rude
Völler with phlegm, but who favours a similarly relaxed, if probably
awfully expensive, 2-piece suit look. And then there’s Guus Hiddink, of
whose crinkled anorak and cheery Santa features probably the less said
the better.

Our concern, in this dark hour, is not the future success of the
expensively-assembled team. We have no doubt that Messrs Lampard,
Terry, Ballack, Shevchenko, Drogba and Cole are old enough and ugly
enough to be wondering (or perhaps dreading), on this chilly morning,
whether José wants them to accompany him or not. No, what we really
want to know is whether José’s successor will have the necessary
panache to lead a club of Chelsea’s stature to its inevitable destiny:
that of the world’s biggest football brand (TM) by 2011. Chelsea have a
ten-year plan, you see. I know this because thus the Face of Kenyon
spake. Can we really be expected to win the Champions League twice in 5
years if we’re being led by a man for whom the words "Levi-Strauss"
mean naught save as the author of "The Elementary Structures of
Kinship"? Do we really expect to put teams like Barcelona to the sword
if the tactics are coming from a gent who doesn’t know his Anderson
from his Sheppard or his Hardy from his Amies? What we need, fellow
Chelsea fans and lovers of sartorial elegance, is someone who really
understands the importance of a notch lapel. Someone who isn’t
interested in a haircut unless it costs in excess of a hundred nicker.
Someone who buys really, really big ties.   

Roman and Mr Kenyon, or Pravda and the Ogpu to thee and me,
doubtless have their reasons for dispensing with the services of the
Special Coat. It doesn’t do for an owner to be upstaged by his manager,
perhaps. And Roman’s predilection for - how shall we put this -
clothing from the bottom barrel in the bargain basement, might be the
key to the whole debacle. To this observer, it smacks of a puritan
soul. Jeans from the Gap? A jumper from… shudder… Mr Byrite? And
could that be a Swatch watch dangling from his wrist? Perhaps Roman
tired of the vigorous Portuguese parading his elegant ensembles before
all and sundry. Perhaps, somewhere in the chilly depths of that heart
(some corner of which will, forever, be Siberia) he rebelled against
the colourful pizzazz of his employee’s outfits? And perhaps this
parting was the final expression of a deeper misunderstanding between
two men; a misunderstanding that went far deeper than mere sophistry on
the nature of open, attacking football and whether Andriy Shevchenko’s
legs had gone before we shelled out £31m on him. Perhaps it just came
down to the clothes. We may never know. Unless, of course, Pravda
neglects to add a "keep your mouth shut" clause to the large
remuneration package José is about to trouser. Whatever the outcome,
whatever the reason, I for one wish the Special Coat well. He brought
us sunshine. He brought us Drogba. And he bought us some priceless
looks on Surralex’s face. I’ll miss him. And his coat.   

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://www.typepad.com/t/trackback/297284/21759191

Listed below are links to weblogs that reference Farewell to the Special Coat:

 

Comments

Part
of me is sad to see Mourinho go, if only because he broke United’s
hegemony (albeit briefly) for which I’m eternally grateful.

Having said that, he’d become something of a caricature of himself
with his paranoid and delusional ramblings. And I’ve still not forgiven
Chelsea for poaching SWP.

I
suspect - and I’m echoing Marina Hyde in the Grauniad here - that
Mourinho is actually the most icily sane man in football. I think he
was just surrounded by idiots and psychopaths. But hey, that’s just my
cheery take on it all.

The
systematic attack on his self-esteem by the local media had to impact
on his confidence. I was starting to feel sorry for him. Great escape!
I hope he makes it to warmer, friendlier latitudes where is talent will
be wellcome and truly appreciated. Far away fom the rigours of weather
and bigotry in the UKGB. Hollywood would do :)

Mourinho´s the best! Goodbye Chelsea. GoodBye Abramovich. Goodbye woondering titles.

Oh well, Romans just flushed Mourinho and our dreams of winning the Champions league down the toilet.
No doubt we can watch with envy as he takes another club to such dizzy
heights as he did in his first season as we slide towards the
Championship….

Never
thought I’d be saying this, but I’ll be actually sad to see him go, if
just for the pure comedy effect he was bringing to our premiership pre
and post match talks.

Yes Jose, you’ll forever be remembered here. Already some of your
quotes have become classics, who else would’ve come up with parking
buses in front of goals and giving free advertisement for Waitrose
eggs…

I m still shock untiol now
Cannot believe he is left the bridge
Good luck for him,

infact
the departure of Mourinho is a big blow to chelsea b’cos of his
splendid performance but i believe we can still move on. Farewell to
Mourinho

It’s
a sad, sad time for Chelsea fans. Mourinho was one of the greatest
managers we ever had and we will miss him, and his flamboyance. The
best of luck "SPECIAL ONE".

Oi mate, I am a Chelsea supporter and fan, why are you bleedy about a "swatch", it’s the watch I have in me hand.

Abramovich is showing a communist type, if not, whatever the case,
he would have taken "we the Chelsea fans and supporters" along with his
decision. We just have to show him, how its done in a democratic way -
you do not sack a popular leader.

dear friends
it´s all over for chelsea…. u will never be premier champions again… u will never win champins league
this is a disaster to the clube …
it´s the end of chelsea
u are not seing all the consequences of this, but u will in the future
i fell sorry for chelsea

Chelsea
was the club with more fans in the world!!! Some English and at least
10 millions Portuguese! So I have to say that Chelsea lost 10 million
Portuguese fans! Bye Bye Abramovitch!!!!

Tribute to Jose 2

September 21st, 2007 by boruff

José Mourinho represents the ultimate triumph of this: The Cult of the
Manager. He has done as much as is humanly possible to render the action on
the pitch irrelevant. With Chelsea, the story was always the manager.
Players, what do they matter? Like Alfred Hitchcock’s actors, they are
cattle.

Mourinho_looksout

Mourinho was football’s star. His entire career was a sweet revenge on the
gods that made him unable to play the game. But he was never interested in
football for itself; rather, it was football as a vector for power that
enthralled him. That was his strength and ultimately his downfall.

Because the truth of the matter is that, ultimately, football is a game about
spontaneity; about fragments of individual brilliance allied to a corporate
resolve. If you reduce football to a series of set-plays, you reduce the
capacity for surprise and, therefore, the potential for winning.

But Mourinho hated spontaneity. He sought control. He wanted people who only
ever crossed on the pedestrian crossing, not realising, or rather, not
understanding that a city without jaywalkers is a city without artists.

He didn’t want artists. He didn’t trust them. He liked ordinary talents
developed to extraordinary lengths: Terry, Lampard, Makelele, Drogba. These
were people he could control, these were players who would not get between
the manager and his public.

One club, one star. Le club, c’est moi. Football’s
traditional belief is that the team are an extension of the manager’s
nature. Why, you may ask, were Chelsea not flamboyant, feisty, cocky,
maverick, paradoxical, intermittently brilliant? Because Mourinho is
primarily interested in power. The maverick side of his nature is merely the
way he set about claiming power, for it is power, not perversity, that
defines him.

Mourinho_fa

As a result, the team were in subjection to the manager. This wasn’t a team
who cut loose, ever; this wasn’t a team you watched for the sake of this
player or that player. You wouldn’t catch Mourinho signing Cristiano Ronaldo
or Cesc Fàbregas, talents that need a certain amount of slack in the rope.

Rather, Mourinho put his faith in method and control. Chelsea were effective
enough but never reached beyond the brilliantly ordinary. The truly
exceptional was always beyond their reach, perhaps beyond Mourinho’s
understanding.

How else to explain his failures with Andriy Shevchenko and Michael Ballack?
To fail with one might be regarded as a misfortune; to fail with two looks
like a personality disorder. A manager who takes on two of the finest
players in Europe and gets scarcely anything from either – indeed, seems to
delight in their misfortunes – must ask questions not about the players but
about himself.

These two players were stars and, as such, they didn’t fit into Mourinho’s
plans. They were a threat to him. It was important for him that they failed,
and they did. This is heresy: it should be the belief of every coach that
anyone of sufficient talent can be accommodated.

Mourinho preferred other methods. They work, too. They worked for Mourinho at
FC Porto, where he won the European Cup, and they worked well enough in
England to bring two league titles, even if a second European Cup was always
beyond him with Chelsea.

But these methods have their drawbacks. The first is that if you rule the
exceptional out of your game, you are going to have problems when you
encounter the exceptional among your opponents. You have eliminated the
element of individual inspiration. In fact, the only place in which
individual inspiration was allowed to flourish with Chelsea was with the
goalkeeper. Petr Cech’s head injury was the single reason Chelsea failed to
win the league title last season.

The other drawback is that your team are going to be less fun. Less fun to
watch, less fun to play for. And you can argue all you like that a win is a
win and that it doesn’t matter whether you went the pretty way or the ugly
way, the fact is that Mourinho found himself in trouble at Chelsea because
of a disagreement on the subject of aesthetics. It is true, yet it is not
true, that Roman Abramovich, the Chelsea owner, parted company with Mourinho
because he was unable and unwilling to deliver football like Barcelona. That
was the proximate cause, of course, an ever-growing dissatisfaction with the
fact that Chelsea’s highest ambition was to achieve a sustained and
brilliant mediocrity.

But the ultimate cause was different. If it hadn’t been aesthetics, it would
have been something else. Mourinho established a one-star club, with one man
attracting all the attention, making all the stories, setting the agenda,
one man as the centre of power, one man as the moving spirit, one man
eclipsing all others. It really should have occurred to him that a man who
had spent 500 million quid to establish the club as a publicity vehicle for
himself may get a little bit irritated by that.

Because the truth is that Mourinho’s power was only ever an illusion. He drew
attention to himself, he had the nation’s football press delighting in every
pose, every absurdity, every contradiction, but he was never truly in charge
of Chelsea. Such power as he had was loaned, not achieved or given.

Mourinho reminds me of the critic in Anthony Powell, whose goal “was to
establish finally that the Critic, not the Author, was paramount”. The cult
of the manager is designed to promote the idea that the manager, not the
player, is paramount and Mourinho’s is the ultimate expression of this cult.
And that’s why Mourinho had to go – because the cult is based on a false
premise. In the end, the players are the stars.

Jobs for the boy

Where will José Mourinho turn after leaving Chelsea? Bill Edgar examines some
of the possibilities, with William Hill supplying the odds on his next job.

Portugal Mourinho has often said that he would like to coach his
country’s national team, although he may prefer to seek further glory at
club level after departing from Chelsea ahead of schedule. Odds 1-2

Tottenham Hotspur A club with such a long history of underachievement
would surely welcome Mourinho with open arms, but would he be willing to
join a club where a director of football has a prominent role? Odds
6-1

Barcelona A move to the Nou Camp would be a surprise, even though
Mourinho worked there as Bobby Robson’s translator. The Portuguese is
disliked for his inflammatory comments before and after Chelsea’s Champions
League meetings with the Spanish club, notably in 2005, when he accused
Anders Frisk, the referee, of bias towards Barcelona because of an alleged
half-time discussion with Frank Rijkaard, their coach. Odds 8-1

Real Madrid A job at the Bernabéu also seems unlikely given that Real
recently did exactly what Chelsea have done – parted company with a
successful manager because his style was boring. Fabio Capello’s league
title last season could not save his job. Odds 10-1

England Mourinho has the ego and single-mindedness to take on “the
impossible job” and the post will probably become available this autumn if
England fail to reach the European Championship finals. Odds 10-1

FC Porto Having won every trophy on offer to the club, he would
probably decline the chance to coach there again, even if he would have the
freedom to operate as a dictator. Odds 12-1

Inter Milan Mourinho reportedly spoke to the Italian club this year,
but Roberto Mancini should be secure as coach after Inter’s runaway title
success last season. Odds 20-1

Arsenal Mourinho may be tempted to seek revenge on Chelsea by taking
over one of their main rivals, but the prospects of Arsène Wenger vacating
the manager’s chair seem slim. Odds 20-1

Wenger vacating
the manager’s chair seem slim. Odds 20-1

var show=false;
var articleID = “2500633″;
var sHaveYourSay = ‘Have your say’;
var sCollapseForm = ‘Hide the form’;
var sHideMostComments = ‘Show fewer comments’;
var errorString = ”;
var testFlag = true;
var nTotalCharacters = 1000; // Value for the total number of characters that can be submitted - change to suit requirements //
// Array of required fields for the named form
var aFormEnterViewCommentValidation = new Array(’your_view’,'name’,'email’,'town_fs_city’);
/*
get the cookie string in cookie associated with cookiename
*/
function getCookie(Name) {
var search = Name + “=”
var CookieString = document.cookie
var result = null
if (CookieString.length> 0) {
offset = CookieString.indexOf(search)
if (offset != -1) {
offset += search.length
end = CookieString.indexOf(”;”, offset)
if (end == -1)
end = CookieString.length
result = unescape(CookieString.substring(offset, end))
}
}
return result
}
/*
set the cookie string in cookie
*/
function setCookie (name, value, lifespan) {
var cookietext = name + “=” + escape(value)
if (lifespan != null) {
var today=new Date()
var expiredate = new Date()
expiredate.setTime(today.getTime() + 1000*60*60*24*lifespan)
cookietext += “; expires=” + expiredate.toGMTString()
}
document.cookie = cookietext
return null
}
/*
validating whether required fields are being entered before submitted
*/
function PostingValidate(objForm) {
// if remember me is checked, the information is saved into the cookies
if(objForm.remember_me){
setCookie(’TimesOnlinecomment_name’,objForm.name.value,30);
setCookie(’TimesOnlinecomment_email’,objForm.email.value,30);
setCookie(’TimesOnlinecomment_city’,objForm.city.value,30);
setCookie(’TimesOnlinecomment_countryState’,objForm.countryState.value,30);
}
// seting the title to article headline so that the moderator get to know on which article, comment is made
objForm.title.value = “Unquenched thirst for power brings down one-man show”;
errorString = ”;
testFlag = true;
if(objForm.body.value.length==”0″){
objForm.body.focus();
document.getElementById(”label_your_view”).className = ‘color-bd0000′;
document.getElementById(”label_your_view”).style.fontWeight = ‘bold’;
testFlag = false;
errorString = ‘
* Please enter the comment’;
}
else {
document.getElementById(”label_your_view”).className = ”;
document.getElementById(”label_your_view”).style.fontWeight = ‘normal’;
}
if(objForm.name.value.length==”0″){
objForm.email.focus();
testFlag = false;
document.getElementById(”label_name”).className = ‘color-bd0000′;
document.getElementById(”label_name”).style.fontWeight = ‘bold’;
errorString += ‘
* Please enter the Name’;
}
else {
document.getElementById(”label_name”).className = ”;
document.getElementById(”label_name”).style.fontWeight = ‘normal’;
}
if(objForm.email.value.length==”0″){
objForm.body.focus();
testFlag = false;
document.getElementById(”label_email”).className = ‘color-bd0000′;
document.getElementById(”label_email”).style.fontWeight = ‘bold’;
errorString += ‘
* Please enter the Email’;
}
else {
if(objForm.email.value.indexOf(”@”,1)==-1){
document.getElementById(”label_email”).className = ‘color-bd0000′;
document.getElementById(”label_email”).style.fontWeight = ‘bold’;
testFlag = false;
errorString += ‘
* Please enter a valid Email’;
}
else{
document.getElementById(”label_email”).className = ”;
document.getElementById(”label_email”).style.fontWeight = ‘normal’;
}
}
if(objForm.city.value.length==”0″){
objForm.body.focus();
testFlag = false;
document.getElementById(”label_town_fs_city”).className = ‘color-bd0000′;
document.getElementById(”label_town_fs_city”).style.fontWeight = ‘bold’;
errorString += ‘
* Please enter the city’;
}
else {
document.getElementById(”label_town_fs_city”).className = ”;
document.getElementById(”label_town_fs_city”).style.fontWeight = ‘normal’;
}
if (testFlag == false)
{
document.getElementById(”enter-view-comment-error-container”).className = ‘color-bd0000′;
document.getElementById(”enter-view-comment-error-container”).style.fontWeight = ‘bold’;
document.getElementById(”enter-view-comment-error-container”).innerHTML = “

Error: “+errorString+”

“;
return false;
}
else {
return true;
document.getElementById(”enter-view-comment-error-container”).className = ”;
document.getElementById(”enter-view-comment-error-container”).style.fontWeight = ‘normal’;
}
}
var sReadAllComments = “”;

fGenerateHaveYourSayLink(’have-your-say-link-1′, ‘comments-form’, sHaveYourSay

Great piece of writing

Sly, London,

rather
harsh and distorted version of reality. Ferguson or Wenger are as much
control freaks and actuallly have more power in their respective clubs.
While taking all the attention on himself Mourinho has let the players
bask in relative calm. For this they are actually grateful to him.

Sheva and Ballack are also big egos and no managers want to deal
with that. Witness Ferguson on Beckham after he got married and
involved in pop, fashion etc. Managers want players that will die for
the cause not prima donnas and show offs.

Winners are often difficult, driven characters. Gullit for one,
was also criticised for his outspokeness, but if things are ever to
change someone has to speak up. Mourinho has shaken English football
into life. It is more competative and of a higher standard accross all
clubs than it was before him. He has broken the dominance of Man U. and
opened up the chances of other teams winning, and we should be thankful
for his willingness to call it like it is.

Dan , london, uk

Would love to have him at Man Utd…

Now that Carlos is leaving Man U, he should step in and take them to greater heights :)

Praveen, Chennai,

// Hide comments-4-to-n because there is no ” access-text” in the classname of comments-form.
fShowHideElement(’comments-4-to-n’);

How about Man utd?

Fergie is on a rolling contract and now would seem an opportune time to hand over the reins.

Bill, town, country